WELUT PUTIH

Licin Dan Gesit Mencari Uang

JENIS-JENIS HAMA PENGEREK BATANG PADI Januari 24, 2008

Diarsipkan di bawah: jenis-jenis hama pengerek batang PADI — mablu @ 3:53 pm

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

 pengerek batang padi

 

  1. Pengerek Batang Padi Putih(Tryporyza innotata)

Tryporyza innotata dinamakan pengerek batang padi putih karena ngegatnya berwarna putih. Dahulu hama ini dikenal hama yang menghuni hamparan sawah tadah hujan. Hama ini dominan didaerah tadah hujan karena ham aini mampu berpuasa 3 sampai 6 bulan pada saat tanah sedang kering dan tidak ada tanaman padi. Namun demikian hama ini justru lebih banyak ditemukan didaerah berpengairan teknisseperti di jalur pantura (pantai utara jawa). Perubahan prilaku ini diduga merupakan akibat dari pembangunan saluran irigasi dan pengaruh pestisida yang digunakan secara terus menerus.

 

  1. Pengerek Batang Padi Kuning (Scirpopaga incertulas)

Scirpopaga incertulas atau disebut juga Tryporyza incertulas dkenal sebagai pengerek batang padi kuning karena ngegatnya berwarna kuning kecoklatan. Ciri lain dari ngegat ini adalah titik hitam dibagian belakang sayap depannya. Pada ngegat betina titik hitam ini lebih besar dan lebih jelas disbanding dengan titik hitam yang ada pada ngegat jantan. Dahulu hama ini dikenal sebagai hama yang ada pada pengairan yang baik dimana ngegat tidak mengalami masa puasa. Namun demikian kini hama ini justru menyebar di daerah yang menanam padi dua kali setahun.

 

  1. Pengerek Batang Padi Merah Jambu (Sesamia inferen)

Sesamia inferen disebut sedagai pengerek batang padi merah jambu karena ulatnya berwarna merah jambu. Pengerek batang ini tidaklah sepenting pengerek batang padi putih dan pengerek batang padi kuning. Populasinnya hanya sedikit dan belum pernah dilaporkan yang mengakibatkan kerusakan serius. Pengerek batang padi merah jambu hanya menyerang bersama-sama dengan pengerek batang padi kuning atau pengerek batang apadi putih.

 

  1. Pengerek Batang Padi Bergaris ( Chilo supressalis)

Chilo supressalis disebut pengerek batang apdi bergaris karena ulatnya memiliki dua garis memanjang. Hama ini juga tidak terlalu mengakibatkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi.

 

  1. Pengerek Batang Padi Berkepala Hitam (Chilo polychrysus)

Chilo polychrysus disebut pengerek batang padi berkepala hitam karena ngengatnya berkepala hitam. Dan hama ini juga tidak menimbulkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi.

 

  1. Pengerek Batang Padi Mata Bertungkai (Diopsis macropthalma)

Diopsis macropthalma disebut penegerek batang padi mata bertangkai karena bagian kepalanya mempunyai tonjolan berwarna merah yang bagian ujungnya membulat seperti mata yang bertangkai. Hama ini ditemukan dibenua Afrika.

 

BEBERAPA MUSUH ALAMI DARI HAMA PENGEREK BATANG PADI :

pada saat pengerek batang padi masih berupa telur, pengerek batang padi ini mempunyai musuh alami sebagai berikut :

 

  1. Parasit Telur Telenomus

Parasit telur Telenomus (Telenomus rowani;Hymenoptera;Scelionidae) merupakan parsit kecil berwarna hitam yang memparasiti telur-telur pengerek batang padi.tabuhan telenomus mencari ngegat betina pengerek batang yang telah siap bertelur dan kemudian hinggap di ujung perut ngegat dewasa, dekat dengan ovipositor (alat untuk meletakkan telur). Ketika ngegat mulai bertelur, tabuhan ini segera menitipkan telurnya dengan menyuntikkan kedalam telur-telur yang abru keluar dari ngegat-ngengat dewasa. Setelah 10-14 hari, yang keluar dari kelompok telur tersebut bukan ulat pengerek batang padi namun yang keluar tersebut adalah tabuhan telenomus baru yang siap mengamankan sawah dari serangan pengerek batang padi. Tingkat parasitasi tabuhan telenomus dilapangan adalah antara 36%-90%.

 

  1. Parasit Trichogramma

Parasit Trichogramma (Trichogramma japonicum; Hymenoptera; Trichogrammitidae) ini berwarna hitam, lebih kecil dari semut. Hama ini sering muncul dari kelompok telur pengerek batang. Parasit ini meletakkan telur dengan menyuntikkan ovipositornya diantara bulu-bulu halus yang menutup telur. Telur parasit diletakkan satu per satu pada tiap telur pengerek batang. Tingkat parsitasi dilapangan berkisar antara 40%.

 

  1. Jangkrik Ekor Pedang

Jangkrik ekor pedang (Metioche vittaticollis atau Anaxpha longipennis; Orthroptera: Gryllidae) merupakan jangkrik pemangsa. Jangkrik ini disebut jangkrik ekor pedang karena memiliki ekor seperti pedang. Cirri lain dari jangkrik ekor pedang adalah sungutnya yang panjang sehingga dibeberapa tempat jangkrik ini juga disebut jangkrik sungut panjang.bukan hanya jangkrik dewasa, jangkrik ekor pedang muda pun merupakan pemangsa kelompok telur pengerek batang padi yang rakus.

 

Dan masih banyak musuh-musuh lami yang lain, yang memangsa dari hama pengerek batang padi sesuai dengan fase-fase dari hama pengerek batang tersebut. Musuh-musuh alami ini dapat digunakan dalam pertanian organic yang memamnfaatkan musuk alami sebagai pengendali hama dan bukan mengunakan pestisida yang dapat membunuh segala macam mahluk hidup yang ada diekosistem tersebut.

Pustaka :Handoko Widagdo.1994. Pengendalian Hama Pengerek Batang Padi. Andi Offset, Yogyakarta.

 

Menghadapi penyakit virus, cendawan, bakteri dan nematoda Januari 24, 2008

Diarsipkan di bawah: macam-macam penyakit — mablu @ 3:50 pm

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

padi hawar daun

 

A. BAKTERI

Bakteri pada umumnya sukar dan hamper tidak dapat dibasmi dengan obat-obatan. Usaha untuk mengendalikan atau untuk mengurangi populasi bakteri dalam tanah dapat dilaksanakan dengan jalan “fumigasi” atau mensterilkan tanah dengan uap air, bisanya usaha tersebut terlalu mahal.

Usaha yang paling mijarab untuk mengendalikan bakteri adalah dengan :

  1. Menanam jenis tanaman yang immuun atau resisten.

  2. Mengadakan rotasi tanaman. Jangan menanam satu jenis tanaman terus-menerus di suatu tempat, bila jenis tersebut merupakan tanaman yang mudah diserang oleh bakteri tertentu.

  3. Usahakan kultur teknis yang khas untuk menghindarkan adanya penularan, misalnya dengan mengurangi ulangan marimbas dalam musim hujan.

Tindakan ini akan mengurangi percikan tanah yang dapat mempercepat penularan penyakit bakteri. Praktek ini dilaksanakan dalam pemeliharaan tanaman kol., untuk menghindarkan seranggan bacterium Campestris.

 

B. CENDAWAN

Menghadapi penyakit cendawan relative lebih mudah daripada bakteri, landasannya adalah :

  1. Adakan pengawasan yang ketat. Sekali ada kelompok cendawan menyusup dalam tanaman kita, berarti hasilnya sedikit banyak akan menurun.

  2. Adakan usaha preventif, dalam arti kata pencegahan, dengan menutup seluruh bagian tanaman dengan fungisida, sebelum cendawan menyusup.

  3. Bila ternyata kita sudah kebobolan usahakan pencegahan penularan yang lebih luas (menghentikan infeksi).

  4. Adakan penyemprotan fungisida beberapa kali. Iklim kan menentukan beberapa kalai akan dilakukan penyemprotan.

Usaha yang mujarap untuk menegndalikan penyakit cendawan adalah :

  1. Menanam jenis tanman yang resisten.

  2. Usahakan menanam menanam jenis-jenis yang peka sebanyak mungkin dalam musim kemarau, jika pengairan masih memungkinkan.

 

C. VIRUS

Usaha untuk mencegah adanya penularan hanya dapat dilaksanakan tidak secara langsung terhadap virusnya sendiri.

Untuk menghindarkan adanya virus didalam tanaman kita sedini mungkin, tindakan-tindakan dibawah ini perlu dilaksanakan ;

  1. Usahakan menanam bibit yang telah dinyatakan bebas virus.

  2. Usahakan menanam jenis tanman yang resisten

  3. Mengendaliakn serangga vector dari virus tersebut.

  4. Usahakan kebersihan yang sebaik-baiknya dalam menanam bibit yang mudah dihinggapi virus.

  1. PENYAKIT atau HAMA NEMATODA

Nematode walaupun ukurannya lebih besar dari pada ketiga penyakit yang telah disebutkan sebelumnya, tetap saja susah untuk diatasi.

Salah satu kultur teknik yang kini sudah banyak dilupakan adalah penanaman rabuk hijau. Rabuk hijau Clotalaria usaramuensis, merupakan leguminosa yang sagat tidak disukai oleh sejenis nematode Heterodera marioni. Denagn menanam clotalaria tersebut maka nematode tadi akan kelaparan dengan sendirinya populasinya akan sangat tertekan.

Penanaman tagets, atau bunga kenikir dapat pula menghalau beberapa jenis nematode.

 

Pustaka : Rismunandar.1981. Penyakit Tanaman Pangan dan Pengendaliannya. Sinar Baru, Bandung.

 

Hama dan penyakit tanaman kelapa sawit Januari 24, 2008

Diarsipkan di bawah: hama dalam tanaman kelapa sawit — mablu @ 3:46 pm

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembanguan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

 

 

Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman yang kuat karena serangan hama dan penyakit jarang membahayakan.

 kelapa sawit

 

HAMA PENTING PADA KELAPA SAWIT

  1. Hama Nematoda

Penyebab : Nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus

Gejala yang terserang hama ini :

  • Daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak.

  • Daun berubah menjadi kuning kemudian mongering.

  • Tandan bunga membusuk dan tidak membuka sehingga tidak menghasilkan buah.

Pengendaliannya : meracuni pohon yang terserang dengan natrium arsenit dan setelah mati / kering segera dibongkar untuk menghilangkan sumber infeksi.

  1. Hama Tungau

Penyebab : Tungau merah ( Oligonychus )

    • Tungau ini berukuran 0,5 mm, hidup disepanjang tulang anak daun sambil mengisap cairan daun sehingga warna daun berubah menjadi mengkilat berwarna bronz.

    • Hama ini berkembang pesat dan membahayakan dalam keadaan cuaca kering pada musim kemarau.

    • Gangguan tungau pada pesemaian dapat mengakibatkan rusaknya bibit.

Pengendalian : penyemprotan dengan akarisida Tetradifon (Tedion) 0,1 – 0,2 %. Racun ini dapat digunakan dengan baik karena tidak membunuh musuh alaminya.

  1. Hama serangga.

  • Hama ulat setora, Setora nitens.

Kupu-kupu Setora meletakkan telurnya di bawah permukaan daun dekat pada ujungnya. Ulat Setora memakan daun dari bawah, sehingga kadang-kadang yang tersisa hanya lidinya saja.

Pengendalian : Ulat ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan racun kontak, misalnya Hostation 25 ULV, Sevin 85 ES, Dursban 20 EC dengan konsentrasi 0,2 – 0,3 %.

  • Kumbang oryctes , Oryctes rhinoceros

Gejala serangan : Kumbang dewasa masuk ke dalam daerah titik tumbuh dan memakan bagian yang lunak.bila serangan mengenai titik tumbuh, tanaman akan mati, tetapi bila makan bakal daun hanya menyebabkan daun dewasa rusak seperti terpotong gunting.

Pengendalian : untuk mencegah berkembangnya hama ini, kebersihan di sekitar tanaman harus dijaga baik. Sampah-sampah atau pohon yang mati dibakar agar larva hama ini mati.

Pemberantasan secara biologis dengan menggunakan cendawan Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

  • The oil palm bunch moth

Penyebab : Ngengat Tirathaba mundella

Gejala serangan : Telur-telur Tirathaba diletakkan pada tandan buah terutama pada

buah-buah yang telah masak atau busuk. Setelah menetas, ulat atau larva melubangi buah-buah muda atau memakan permukaan buah yang matang.

Pengendalian : Ulat Tirathaba dapat dikendalikan dengan Dipterex atau Thiodan.

Caranya sbb. : 0,55 kg Dipterex atau Thiodan dilarutkan dalam air sebanyak 370 liter (dosis per hektar) dan diaduk sampai merata, selanjutnya disemprotkan pada kelapa sawit yang terserang ulat Tirathaba tersebut.

  1. Mamalia

Hama yang termasuk mamalia (binatang menyusui) adalah babi hutan dan kera. Hama ini sangat merusak tanaman kelapa sawit. Di beberapa daerah tertentu di Sumatera, gajah sering menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman kelapa sawit muda. Selain itu juga tikus (rodentia) merupakan hama yang merusak (memakan) buah kelapa sawit yang sudah tua.

 

PENYAKIT PENTING PADA KELAPA SAWIT

  1. Penyakit akar Blast disease

Penyebab : cendawan Rhyzoctonia lamellifera dan Phytium sp.

Gejala serangan :

  • Bila menyerang pesemaian dapat menyebabkan kematian bibit secara mendadak.

  • Bila menyerang tanaman dewasa akan menyebabkan daun menjadi layu, kemudian tanaman mati.

  • Kalau perakaran tanaman dilihat, tampak adanya pembusukan pada akar.

Pengendalian :

  • Pembuatan pesemaian yang baik agar pertumbuhan bibit sehat dan kuat.

  • Pemberian air irigasi pada musim kemarau dapat mencegah terjadinya gangguan penyakit ini.

 

  1. Penyakit garis kuning pada daun

Penyebab : cendawan Fusarium oxysporum

Gejala serangan :

  • Infeksi penyakit sudah terjadi pada saat daun belum membuka.

  • Setelah daun membuka akan tampak adanya bulatan-bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat tempat konidiofora.

  • Bagian-bagian tersebut kemudian mengering.

Pengendalian : Menanam bibit yang bebas dari infeksi penyakit ini.

  1. Penyakit batang dry basal rot.

Penyebab : cendawan Ceratocyctis paradoxa.

Gejala serangan :

  • Tandan buah yang sedang berbunga mengalami pembusukan.

  • Pelepahnya mudah patah, tetapi daun tetap berwarna hijau untuk beberapa saat, meskipun pada akhirnya akan membusuk dan mongering.

  • Semua gejala tersebut sesungguhnya disebabkan karena terjadinya pembusukan (busuk kering) pada pangkal batang.

Pengendalian : Menanam bibit yang bebas dari infeksi penyakit ini.

  1. Penyakit busuk tandan (bunch rot)

Penyebab : cendawan Marasmius palmivorus sharples.

Gejala serangan :

  • Penyakit ini menyerang tanaman berumur 3 – 10 tahun.

  • Menyerang buah yang matang dan dapat menembus daging buah, sehingga menurunkan kualitas minyak sawit.

Pengendalian :

  • Tindakan pencegahan dilakukan dengan melakukan penyerbukan buatan dan sanitasi kebun terutama pada musim hujan.

  • Membuang semua bunga dan buah yang membusuk dan membakar tandan buah yang terserang.

  • Dapat disemprot dengan menggunakan Difolatan atau Actidone dengan konsentrasi 0,2 % atau sebanyak 0,7 liter/ha dengan interval waktu 2 minggu sekali.

 

Pustaka : Anonim…. Hama Penting Pada Tanaman Kelapa sawit………..

 

 

Daftar-daftar istilah dalam ilmu serangga Januari 24, 2008

Diarsipkan di bawah: Daftar-daftar istilah dalam ilmu serangga — mablu @ 3:43 pm

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

Abdomen : perut; daerah tubuh serangga yang paling belakang (ketiga).

Botol pembunuh : botol yang digunakan sebagai tempet untuk membunuh serangga yang didapatkan darril lapangan untuk keperluan penelitian atau koleksi. Didalam botol pembunuhan tersebut terdapat bahan-bahan atau zat pembunuh, misalnya KCN.

Cairan pupa : meconium; cairan yang biasa meneyelimuti calon serangga dewasa yang abru keluar dari pupa.

Diapuse : masa istirahat pada perkembangan serangga.

Elytra : sayap depan bangsa kumbang (Coleopteran) dan cocopet (Dermaptera) yang bersifat keras seperti kulit, namun rapuh.

Embun madu : cairan gula dari bangsa kutu jenis tertentu, misalnya kutu aphid.

Femur : sebutan untuk ruas ketiga kaki serangga.

Halter : modifikasi sayap belakang bangsa lalat dan yamuk berupa pentolan kecil, dan berfungsi sebagai alat keseimbangan.

Hemelitra : sayap depan bangsa kepik.

Insang : alat bernapas jenis binatang akuatik tertentu, merupakan pelebaran dinding tubuh atau usus belakang yang berfungsi sebagai tempat pertukaran udara.

Instar : masa diantara pergantian kulit pada serangga.

Jaring serangga : alat berupa jarring kecil yang digunakan untuk menagkap serangga, terutama serangga terbang.

Jarum koleksi : jarum pentol dengan macam-macam diameter yang digunakan untuk menusuk serangga, untuk keperluan koleksi.

Kampuh : celah dibagian luar tubuh berupa garis pada dinding tubuh.

Kanibalisme : pristiwa makan-memakan anatar individu pada satu jenis yang sama.

Karnivora : pemakan daging.

Kelenjar bau : kelenjar penghasil cairan berbau khas, misalnya pada bangsa kepik dan jenis kumbang tertentu.

Keranjang serbuksari : corbicula; daerah lunak pada permukaan luar ruas keempat kaki belakang lebah yang dibatasi oleh rambut-rambut panjang melengkung.

Kopulasi : sanggama; bertemunya alat kelamin jantan dan betina.

Labium : salah satu bagian alat mulut; bibir bawah.

Larva : tahap hidup diantara tahap hidup tahap telur dan pupa, dan biasanya digunakan untuk menyebut serangga pra-dewasa dari serangga dengan tipe metamorfosis sempurna.

Lembaran sepirakel : lembaran yang terdapat disekitar sepirakel (lubang pernapasan).

Maksila : sepasang bagian alat mulut yang terdapat dibagian mandibula.

Mandibula : rahang; sepasang bagian alat mulut yang terletak dibagian depan.

Mata majemuk : mata yang tersusun atas banyak mata tunggal.

Mata sederhana : ocelli; terdapat pada serangga dan binatang yang berbuku-buku yang lain, terletak diantara pangkal antenaatau kedua buah mata majemuk.

Mata tunggal : ommatidia; unit tunggal dari mata majemuk.

Metamorfosis : perubahan bentuk selama perkembangan.

Nadi : vena; garis menebal pada sayap (serangga).

Naiad : nimfa yang hidup didalam air dan bernafas dengan insang.

Nasuti : salah satu kastra rayap yang berbentuk kepalanya sempit dan meruncing pada bagian ujungnya, sehingga membentuk moncong.

Nimfa : sebutan serangga pra-dewasa pada serangga yang meta morfosisnya sederhana.

Nocturnal : aktif pada malam hari.

Omnivore : pemakan segala.

Ovipositor : alat peletak telur pada beberapa serangga betina.

Parasitoid : serangga parasit, dapat hidup diluar atau didalam inangnya.

Partenogenesis : berkembangnya telur yang tidak dibuahi.

Pedisel : tonjolan diantara toraks dan abdomen semut.

Penampung seperma : (pada capon dan sibar-sibar jantan) tempat untuk menyimpan sementara sperma yang dikeluarkan dari alat kelamin untuk kemudian disalurkan ke dalam tubuh serangga betina pada saat kopulasi.

Penis : alat kelamin jantan yang berada diluar tubuh.

Polifagus : kisaran inangnya lebar; pemakan banyak jenis makanan.

Polimorfisme : berbentuk tubuh banayak.

Populasi : sekumpulan mahluk hidup sama jenis yang hidup pada satu tempat tertentu.

Peredasius : bersifat pemangsa.

Predator : pemangsa.

Prepupa : tahap diam diantara masa larva dan pupa; instar ketiga dari jenis thrips.

Puparium : bungkus yang berbentuk oleh pengerasan kulit larva instar terakhir sehingga pupa akan terbentuk; pada bangsa lalat.

Pupasi : pergantian kulit dari larva instar terakhir menuju ketahap pupa.

Soliter : penyendiri (pada beberapa jenis lebah, tawon, semut dan kepik).

Stylet : alat penusuk pada serangga yang mempunyai alat mulut bertipe pencucuk-penghisap; bentuknya seperti jarum.

Subimago : instar bersayap yang segera berkembang menjadi serangga dewasa matang kawin; pada lalat sehari.

Tabung malfigi : organ pengeluaran urin serangga, yang berupa pipa panjang yang bermuara pada usus belakang.

Tegmina : sayap depan berupa kulit pada bangsa belalang.

Toraks : dada; daerah tengah (kedua) dari tubuh serangga.

Vena palsu : garis tebal serupa vena diantara vena sejati radius dan median pada lalat apung dewasa.

Pustaka : Nugroho Susetya Putra.1994. Serangga Di Sekitar Kita. Kanisius, Yogyakarta.

 

kunci Deteminasi Serangga Januari 24, 2008

Diarsipkan di bawah: Kunci Determinasi Serangga — mablu @ 3:24 pm

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

 

  1. TAKSONOMI SERANGGA

Itilah Taksonomi berasal adari bahasa Yunani yaitu taxis yang berarti susunan dan nomos yang berarti hokum. Jadi secara umum taksonomi penyusunan yang teratur dan bernorma mengenai organisme,-organisme kedalam kelompok-kelompok yang tepat dengan menggunakan nama-nama yang sesuai dan benar.

Identifikasi, deskripsi, pengumpulan data tentangcontoh serangga yang diselidiki, juga pencarian pustaka mengenai serangga tersebut seperti adaptasi, distribusi dalam macam tanaman inang yang termasuk kegiatan sehari-hari yang dilakukan seorang taksonom.

Taksonomi sebagian besar didasarkan atas persamaan cirinya. Serangga dengan cirri yang sama dimasukkan dalam kelompok yang sama, jadi disini melakukan klasifikasi. Kategoro klasifikasi untuk binatang pada dasarnya adalah :

Golongan

Phylum

Klas

Ordo (bangsa)

Famili (suku, marga)

Genus (keluarga)

Spesies (jenis)

Golongan binatang secara berurutan akan terdiri atas beberapa phylia, satu phylia terdiri atas beberapa klas, demeikian seterusnya yang berarti jumlahnya akan terus meningkat dalam setiap kelompok. Kelompok spesies/jenis terdiri atas sekitar satu juta nama.

Semua serangga adalah anggota dari phylum Artropoda, yaitu binatang dengan kaki beruas-ruas. Serangga yang biasa dikenal sebagai lebah madu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

 

 

Golongan : Animalia

Phylum : Arthropoda

Klas : Insekta

Ordo : Hymenoptera

Famili : Apidae

Genus : Apis

Spesies : Aphis melliferai

Nama yang dipakai satu spesies binatang adalah nama umum daerah setempat dan nama ilmiah. Contoh diatas atas nama umumnya adalah lebah madu (honey bee). Nama ilmiah suatu spesies terdiri atas genus, spesies dan nama penemu (author) yang telah menemuakan suatu spesies dalam susunan taksonominya. Nama ilmiah lebah madu adalah Apis mellifera Linnaeus.

 serangga

 

  1. Klasifikasi Serangga

Dunia binatang terdiri atas 14 phyla. Dasar yang dipakai adalah kekompleksan dan unkin dari urutan evolusinya sehingga phyla binatanag disusun dari phylum yang rendah ke phylum yang tinggi.

Serangga atau insecta termasuk dalm pylum Arthropoda. Arthropoda terbagi menjadi 3 sub phylum ialah Trilobita, Mandibulata. Dan Chelicerata. Sub phylum Trilobita tealah punah dan tinggal sisa-sisanya (fossil). Sub phylum Mandibulata terbagi menjadi beberapa kelas,salah satu diantaranya adalah kelas insekta (hexapoda), Chelicerata juga terbagi dalam beberapa kelas termasuk Arachnida di dalamnya. Untuk lebih jelasnya, klasifikasi ini dapat dilihat pada bagan berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pustaka : Anggota IKAPI. 2004. Kunci Determinasi Serangga, Program Nasional Pelatihan dan Pengembangan Pengendalian Hama Terpadu. Kanisius, Yogyakarta.