Mesin tanam padi atau Rice transplanter & Mesin Perontok Padi Multiguna

Pada akhir tahun 2016 di kelompok tani Cinta Makmur dan Tunas Muda Desa Belumai II mendapatkan bantuan mesin penanam padi dan perontok padi multiguna dari Dinas Pertanian Kabupaten Rejang Lebong,.

Mesin penanam padi, alat ini bekerja layaknya seperti orang tandur atau menanam padi dengan menancapkan bibit padi kedalam tanah persawahan secara teratur yaitu 1 buah bibit atau lebih untuk setiap satu titik tanam. Mesin ini dijalankan hanya oleh seorang tenaga dan satu orang asisten saja dan sudah dapat mengantikan beberapa belas atau puluh orang tenaga kerja penanam atau tukang tandur. Untuk tanam padi seluas 1 hektar hanya dibutuhkan waktu 2 – 3 jam dibandingkan dengan cara tradisional yang membutuhkan tenaga kerja sebanyak 10 orang atau lebih dengan waktu 2 hari. Jadi tanam padi dengan menggunakan mesin tanam padi jauh lebih efesien dalam hal biaya dan waktu.

Hamparan lahan Cinta Mamur
Uji Coba Mesin penanam padi besama-sama babinsa di kelompok tani Cinta Makmur

Desa Belumai II, pada proses penanaman secara umum menggunakan tenaga kerja konvesional atau manual, yaitu menancapkan bibit padi kedalam lumpur / tanah dihamparan sawah pada cara lama menggunakan tenaga yang banyak dan waktu yang lama sehingga biaya yang dikeluarkan jauh lebih banyakdan juga tidak bisa menghemat waktu.

foto3535

Menanam padi secara manual di Kelompoktani Sidodadi

Mesin Perontok Padi Multiguna atau Mesin Pengolah Padi adalah sebuah mesin sederhana yang berfungsi untuk merontokkan atau memisahkan bulir-bulir padi dari batangnya. Mesin perontok padi sangat diperlukan oleh para petani saat musim panen tiba .

Uji Coba Mesin Perontok Multi Guna Di Kelompoktani Tunas Muda

Uji Coba Mesin Perontok Padi Multi Guna di Kelompoktani Tunas Muda

 

Setelah padi mulai menguning pertanda padi sudah tua dan siap dipanen. Batang batang padi di sabit dan dikumpulkan menjadi satu. Untuk memudahkan dalam penggilingan, bulir bulir padi yang masih menempel dibatang ini harus dirontokan terlebih dahulu sehingga menjadi gabah.

Mesin perontok padi memiliki fungsi sebagai perontok padi dari jerami. Dengan menggunakan mesin perontok padi, para petani tentu akan lebih bisa menghemat waktu dan juga tenaga. Sebab apa? Karena perontok padi dapat dengan langsung memisahkan butir-butir gabah dengan jerami dalam waktu yang 50% lebi singkat daripada menggunakan alat konvensional, hasilnya pun juga bagus, padi terpisah dari kotoran bekas jerami yang hancur. Selain itu, gabah atau padi langsung dapat dimasukkan kedalam karung atau wadah. Perlu diketahui juga bahwa mesin perontok padi dapat digunakan untuk merontokkan jagung, kedelai atau yang lainnya.

Perontok Padi Manual / Gebotan di Kelompok Tani Cinta Makmur

Merontok padi secara manual / gebotan di kelompktani Cinta Makmur

By mablu Posted in Tak Berkategori

Pembuatan POH Byonic Startmik-LIPI di BPP PU. Tanding

Selama ini, upaya peningkatan kapasitas produksi pertanian masih mengandalkan pupuk
sintesis dan pestisida kimia sebagai komponen utama. Penggunaan pupuk tersebut 
bukan tanpa masalah. Tengok saja, penggunaannya yang berlebihan berpotensi merusak 
ekosistem dan kualitas tanah. Imbasnya adalah kemerosotan kapasitas produksi 
pertanian yang berdampak luas bagi ketahanan pangan nasional.Penelitian dari 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperlihatkan bahwa penggunaan senyawa 
kimia (terutama pestisida) secara berlebihan mengakibatkan kepunahan beberapa 
serangga penyerbuk tanaman sehingga produksi tidak optimal. Sebagai solusi 
permasalahan tersebut, LIPI mengembangkan teknologi beyonic, yaitu teknologi 
berbasis mikroba lokal pada pupuk organik. Teknologi beyonic adalah salah satu 
jalan keluar untuk mengatasi penurunan kualitas lahan akibat penggunaan pupuk 
sintesis dan pestisida kimia. Teknologi tersebut meminimalisasi pemakaian senyawa 
kimia sintesis sehingga kualitas lahan tetap terjaga.
Foto2998

Pelatihan Pembuatan POH di BP4K Kab. rejang Lebong, Narasumber Bpk. Dr. Sarjiya Antonius (Anton) dari Puslit Biologi-LIPI

Pada hari kamis tanggal 02 Juni 2016 BPP PU. Tanding menjadi tempat kegitan 
pelatihan pembuatan POH Beyonic Startmik-LIPI yang diadakan oleh BP4K Kab. Rejang 
Lebong. Kegiatan pelatihan dihadiri oleh 20 peserta Kelompoktani sekecamatan PU. 
Tanding dan Binduriang, dan ditambahn oleh PP PNS dan THL-TBPP dan penggunaan 
teknologi beyonic ini diharapkan bisa membantu petani meminimalisasi penggunaan 
senyawa kimia sehingga kualitas lahan terjaga yang berujung pada peningkatan 
kapasitas produksi.Pupuk Organik Hayati (POH) berbasis Mikroba unggul koleksi 
Kultur - LIPI, yang berasal dari berbagai ekosistem tanah, yang telah diseleksi 
dan dikarakterisasi aktivitas enzimatikanya (single species with multi enzyme 
activities) sesuai dengan peruntukannya sebagai agen penyubur tanaman, biokontrol 
dan bioremediasi lahan. Formula POH yang mengandung kombinasi mikroba penghasil 
multi boikatalis (pelarut P, Penambat N, pengasil IAA, asam-asam organik dan 
biopestisida) Produk pupuk tersebut berfungsi mengantikan bahan kimia agro pada 
pertanian organik, memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah, menekan penyakit dan
menyuburkan perakaran serta menjaga kualitas dan kwantitas hasil panen.
Mikroba lokal adalah mikroba yang telah diketahui validitas jenisnya dan disimpan 
di dalam kultur koleksi. Di antaranya, adalah Azospirillium, Azotobacter, Rhizobium,
Mikroriza dan mikroba tanah yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder untuk 
kesehatan tanaman, seperti Bacillus.
Foto3416

Penyuluh Pertanian BPP PUT bersama-sama Kelompok Tani mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan

Bahan di sekitar :
Bahan karbohidrat dan protein hayati yang ada di sekitar, menurut Sarjiya, 
merupakan faktor utama penekan biaya produksi POH Beyonic-StarTmik LIPI menjadi 
lebih murah. Di Ngawi sempat dicontohkan produksi 100 liter POH untuk 1 hektar 
sawah padi menggunakan 13 macam bahan.
Untuk sumber karbohidrat digunakan gula merah 3 kilogram, tetes tebu 3 liter, 
tepung jagung 3 kilogram, dan bekatul 3 kilogram. Sumber protein memanfaatkan 
kecambah 6 kilogram, tepung ikan 3 kilogram, dan telur ayam empat butir.
Kemudian ditambahkan air kelapa muda empat buah, agar-agar instan empat bungkus, 
kapur setengah kilogram, dan fosfat (nutrisi anorganik triple super phosphate/TSP) 
setengah kilogram. Mikroba Beyonic-StarTmik digunakan sebanyak 3 liter dan air 
bersih 100 liter. ”Proses produksinya menggunakan proses fermentasi selama tiga 
minggu,” kata Sarjiya. Cara membuat POH, pertama merebus kecambah untuk mendapat 
air perasan kecambah lunak. Bekatul dicampur tepung ikan direbus. Gula merah juga 
direbus. Setelah dingin, semua bahan dicampur. Campuran ini kemudian ditambah telur
mentah yang sudah dikocok, agar-agar, fosfat TSP, tepung jagung, tetes tebu, kapur, 
dan 100 liter air bersih. Campuran ini lalu ditambah Beyonic-StarTmik LIPI. 
Proses anaerob selama tiga pekan menjadikan campuran berbagai bahan tadi sebagai 
pupuk cair organik hayati yang diperkaya mikroba.
Foto3410

Perwakilan Kelompoktani se Kecamatan PU. Tanding dan Binduriang

By mablu Posted in Tak Berkategori

BUDIDAYA JAGUNG HIBRIDA KEC. PU. TANDING

Dalam memanfaatkan lahan sawah yang mengalami kekeringan karena disebabkan adanya perbaikan irigasi, sebagian petani yang tergabung dalam wadah kelompok tani Selat Maju desa Belumai II, Kec. Padang Ulak Tanding memanfaatkan lahan sawahnya untuk membudidayakan tanaman jagung (Zea mays L.) hibrida dengan berbagai vareitas hibrida yang banyak dijual dipasaran khususnya pasar Lubuklinggau dan pasar Curup. Diantara varitas jagung hibrida yang ditanam adalah Pertiwi-2 dan Pioner, karena memiliki beberapa keunggulan.

Jagung4

Jagung hibrida vareitas pertiwi 2 dilahan ibu Yatinem

Adapun teknologi budidaya jagung yang digunakan adalah sistem tanam TOT pada lahan sawah, tahapan-tahapannya adalah sebagai beriku :

  • Pembersihan lahan

Lahan sawah yang akan ditanami jagung terlebih dahulu dibersihkan dari jerami padi ataupun rerumputan yang tumbuh dilahan sawah. Kebanyakan petani yang mengendalikan gulma yang ada dengan menggunakan herbisida jenis kontak dan sistemik. Takaran bahan aktif herbisida per liter air tercantum pada label pembungkus. Dosis herbisida yang digunakan tergantung ketebalan rumput/gulma, umumnya digunakan dosis 3 liter/ha atau 400-500 larutan semprot/ha. Tiga – empat hari setelah aplikasi herbisida dikontrol kembali rumput/gulma yang belum terkena semprotan. Satu minggu setelah aplikasi herbisida dilanjutkan dengan penanaman.

  • Penanaman

Satu minggu setelah penyemprotan rumput/gulma dilanjutkan dengan penanaman selebar 2m (3 baris tanaman). Penanaman dilakukan dengan tugal 1 atau 2 biji/lubang. Selanjutnya lubang tanam langsung ditutup dengan pupuk kandang yang sudah jadi agar mudah ditembus kecambah tanaman. Fungsi lain dari pupuk kandang selain sebagai penutup lubang juga sebagai pupuk dari tanaman yang baru tumbuh. Alur baris tanaman yang biasa digunakan yaitu dari timur ke barat yang diharapkan agar sinar matahari dapat masuk secara optimal kedalam barisan tanaman. Sebagian petani ada yang menggunakan insektisida berbentuk butiran yang dimasukkan bersama benih kedalam lubang tanam, untuk mengendalihan hama orong-orong ataupun ulat tanah.

Jarak tanam yang umum digunakan adalah : 70-75cm x 20cm, 1 tanaman/ lubang atau 70–75cm x 40cm, 2 tanaman/lubang dengan populasi= 66.000-71.000 tanaman/ha. Atau menggunakan cara tanam legowo 90–40cm x 20cm, 1 tanaman/lubang atau 100–40cm x 40cm, 2 tanaman/lubang dengan populasi = 71.000 – 77.000 tan/ha. Penanaman dilakukan dengan tugal dan tali jarak tanam yang telah diberi tanda sesuai ukuran yang akan digunakan

  • Setelah berumur satu minggu setelah tanam dilakukan penyulaman dengan bibit yang seumur agar efektif pertumbuhannya. Agar diperoleh bibit seumur, maka akhir kegiatan penanaman pada lahan dibibitkan benih jagung dalam koker yang telah disiapkan sebelumnya. Dengan demikian umur bibit pada lahan seumur dengan bibit yang disemaikan dalam koker. Benih yang berdaya kecambah > 95 % akan diperoleh populasi tanaman 66.000/ha.
  • Pemupukan

Pemupukan dilakukan agar tanaman tumbuh dengan subur dan berproduksi optimal. Pemupukan didasarkan atas kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Pupuk yang umum digunakan adalah pupuk tunggal yaitu Urea sebagai pupuk N, SP-36 sebagai pupuk P dan KCl sebagai pupuk K. Karena pupuk tunggal KCl sudah tidak tersedia dipasaran dan kalaupuan ada harganya sangat mahal sehingga tidak terjangkau oleh petani, maka pupuk Kalium diambil dari pupuk majemuk NPK. Pemupukan dilakukan dua kali yaitu umur tanaman 10 dan 35 hari setelah tanam (hst). Takaran pupuk tunggal per hektar yang umum digunakan adalah 350 kg Urea + 200 kg SP-36 + 100 kg KCl. Sedang takaran pupuk majemuk per hektar yang digunakan adalah 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg Urea + 80 kg SP-36. Kebutuhan pupuk jagung hibrida lebih besar dibading jagung komposit. Berapa banyak hara N yang dibutuhkan untuk memcu pertumbuhan tanaman ditentukan melalui pembacaan BWD (Bagan Warna Daun) pada umur tanaman 42 – 45 hst. Akan tetapi sebagian petani tidak menggunakan dosis anjuran pupuk yang telah disampaikan oleh Penyuluh setempat dikarena sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi di kios-kios pengecer remi yang harganya lebih terjangkau.

Jagung5

Lahan Jagung Umar Mugiono Jagung hibrida pertiwi – 2

Jagung6

Lahan Jagung hibrida bapak Didi darmadi pertiwi – 2

Pengendalian Hama dan Penyakit

Umumnya hama yang sering menggangu tanaman jagung di lahan kelompok tani selat maju adalah :

  • Hama Ulat pengerek batang umunya menyerang tanaman jagung usia muda yaitu antara 6 – 16 hst. Biasanya tanaman menjadi rusak atau terpotong terutama pada batang tanaman yang masih muda atau kecil (fase pertumbuhan). Pengendalian yang biasa dilakukan yaitu dengan memberikan insektisida berbentuk butiran di lubang tanam besamaan dengan benih.
  • Tanaman jagung yangterserang hama kutu (Aphids sp). Biasanya menyerang pada tongkol jagung yang masih terbungkus kulit pada tanaman yang berpengairan tehnis terutama saat musim kemarau. hama ini kurang begitu merugikan secara ekonomis sehingga tidak dilakukan pengendalian secara kimia/pestisida.

 Panen dan Pasca Panen

Panen

  • Jagung bisa dipanen  saat berumur 105-115 hst pada dataran rendah (sesuai varietasnya).
  • Agar kadar air biji jagung panen rendah maka biarkan jagung di batangnya hingga betul-betul kering (± 115-120 hst).
Jagung

Panen jagung hibrida vareitas Pioner di lahan bapak Tarman

Ciri-ciri jagung siap panen :

  • Klobot sudah berwarna coklat
  • Rambut berwarna hitam dan kering.

Pengeringan :

Pengeringan yang dilakukan kebanyakan petani adalah dengan memanfaatkan sinar matahari langsung dengan lamanya waktu pengeringan ± 6 – 8 hari dengan kadar air hingga 20 – 25 %, setah kering maka lagsung adapat dipipil secara manual atau menggunakan alat.

By mablu Posted in Tak Berkategori

PERBANYAKAN PALA SECARA GENERATIF (BIJI)

Pemilihan Biji

Perbanyakan dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam hal ini biji yang digunakan berasal dari

  1. Biji sapuan : biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti mengenai pohon induknya
  2. Biji terpilih : biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal ini ada 3 macam biji terpilih, yaitu: (1) biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui); (2) biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas diketahui; (3) biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih.
Foto2758

Contoh Biji sapuan, biji yang masih terbungkus fuli rapat yang akan dijadikan bahan bibit

Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat: (1) pohon dewasa yang tumbuhnya sehat; (2) mampu berproduksi tinggi dan kwalitasnya baik.

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor: KB.010/42/SK/ DJ. BUN/9/1984, telah ditetapkan dan dipilih pohon induk yang dapat dipergunakan sebagai sumber benih yang tersebar di 4 propinsi, yaitu: Sumatera Barat, Jawa Barat, Sulawesi Utara dan Maluku. Biji-biji dari pohon induk terpilih yang akan digunakan sebagai benih harus diseleksi, yaitu dipilih biji-biji yang ukurannya besar dengan bobot minimum 50 gram/biji, berbentuk agak bulat dan simetris, kulit biji berwarna coklat kehitam-hitaman dan mengkilat, tidak terserang oleh hama dan penyakit. Buah pala yang dipetik dari pohon dan akan dijadikan benih harus segera diambil bijinya, paling lambat dalam waktu 24 jam biji-biji tersebut harus sudah disemaikan. Hal ini disebabkan oleh sifat biji pala yang daya berkecambahnya dapat cepat menurun.

Penyemaian :

Tanah tempat penyemaian harus dekat sumber air untuk lebih memudahkan melakukan penyiraman pesemaian. Tanah yang akan dipakai untuk penyemaian harus dipilih tanah yang subur dan gembur. Tanah diolah dengan cangkul dengan kedalaman olahan sekitar 20 cm dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase.

Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh ini adalah agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu terlindungi oleh peneduh.

Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya merata dan tidak sampai terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji pala disemaikan dengan membenamkan biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-biji adalah 15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah menjaga tanah bedengan tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari gulma).

Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak.

Polybag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi atap pelindung berupa anyaman daun kelapa/jerami.

Pemeliharaan dalam polybag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap bersih dari gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap basah namun tidak tergantung air. Agar tidak tergenang air, bagian bawahnya dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/air hujan.

Bibit-bibit tersebut dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk TSP dan urea masing-masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di atas permukaan media tumbuh kemudian langsung disiram. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3–5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.

Foto2755

Bibit pala siap tanam umur 1,5 – 2 tahun di lahan kebun pala Bpk. A. Rokhim Ds. Air Apo, Kec. Binduriang, Kab. Rejang Lebong (penggarap Bpk. Amru)

Hama yang dapat menyerang biji pala dalam persemaian :

Kumbang Aeroceum fariculatus

Hama kumbang berukuran kecil dan sering menyerang biji pala. Imagonnya menggerek biji dan meletakkan telur di dalamnya. Di dalam biji tersebut, telur akan menetas dan menjadi larva yang dapat menggerek biji pala secara keseluruhan.

Hama ini dapat menyerang biji pala yang masih dalam pesemaian sehingga dapat menyebabkan bibit pala yang masih berukuran kecil mati, dikarenakan daging biji pala dijadikan tempat meletakkan telur oleh imago Kumbang Aeroceum fariculatus.

Foto2815

Biji pala di lahan persemaian Bpk. Didi Darmadi Ds. Belumai II, yang terserang hama kumbang penggerek biji pala. di biji buah banyak terdapat telur dan larva kumbang.

Sumber : http://www.ristek.go.id dan pengamatan lapangan.

By mablu Posted in Tak Berkategori

KECAMATAN PADANG ULAK TANDING (PUT), Kab. R/L

Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) terdiri dari 14 Desa dan 1 kelurahan dengan luas wilayah seluruhnya 43.157 Ha, dengan batas – batas wilayah sebagai berikut :

Peta Edit

Peta Kec. PUT Program GIS 3,3 sumber Kantor Camat PUT 2014

  • Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Propinsi Jambi
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Sindang Ulu
  • Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Binduriang.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kecamatan Sindang Beliti Ilir dan Propinsi Sumatra Selatan.

Jarak BP3K PU. Tanding dengan Ibukota Kecamatan Padang Ulak Tanding ± 0,5 Km, dengan Ibukota Kabupaten 46 Km, dengan ibukota Propinsi 120 Km.

No.

Desa /

Kelurahan

Luas Wilayah

( Ha )

Jenis Lahan / Ha

Lahan Sawah

Lahan Kering

1

2

3

4

5

1

KEC. PU.TANDING

Pasar PU. Tanding

2.367

21,0

262

2

Ulak Tanding

1.635

11,0

65

3

Taba Tinggi

2.786

74,0

298

4

Muara Telita

1.789

15,0

175

5

Ujan Panas

1.554

11,0

105

6

Tak Toi

2.415

65,0

275

7

Belumai I

1.658

120,0

30

8

Belimai II

1.674

80,0

95

9

Kasie Kasubun

2.480

35,0

304

10

Bukit Batu

2.396

17,0

287

11

Tanjung Sanai   I

1.811

23,0

265

12

Tanjung Sanai   II

1.957

24,0

193

13

Air Kati

1.510

65,0

250

14

Guru Agung

2.681

23,0

243

15

Karang Baru

2.519

12,0

256

Sumber Data Programa BPP PUT
By mablu Posted in Tak Berkategori

Teknik Pemeriksaan Kebuntingan Sapi

         Teknik perkawinan sapi potong dapat dilakukan dengan menggunakan (1) intensifikasi kawin alam (IKA) dengan pejantan terpilih, (2) teknik inseminasi buatan (IB) dengan semen beku (frozen semen) dan IB dengan semen cair (chilled semen).

Foto1298

Model Perkawinan Padang Pengembalaan (angonan) di lahan Bpk. Jemu Desa Belumai II

Pengamatan birahi pada sapi betina yang siap untuk di kawinkan dapat dilakukan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari dengan melihat gejala birahi secara langsung dengan tanda-tanda estrus. Apabila birahi pagi hari, maka dikawinkan pada sore hari dan apabila birahi sore hari, maka dikawinkan besok pagi hingga siang. Persentasi kejadian birahi dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

Persentase Waktu Kejadian Birahi Pada Sapi Induk :

Waktu Birahi

Persentasi gejala birahi (%)

06.00 – 12.00

12.00 – 18.00

18.00 – 24.00

24.00 – 08.00

22

10

25

43

Setelah 6 – 12 jam terlihat gejala birahi, sapi betina siap untuk dikawinkan dengan pejantan pilihan atau menggunakan tehnik kawi IB.

Foto2731

Pemeriksaan Kebuntingan Sapi Oleh Dinas Peternakan Kab. R/L. Tgl. 22 Des 2014 di Kelompok Tani Tunas Muda, peternak mendapatkan bantuan dana Rp. 400.000,-/per ekor sapi yang bunting diatas 5 bulan.

Setelah 21 hari (hari ke 19 – 23) dari perkawinan, dilakukan pegamatan birahi lagi dan apabila tidak ada gejala birahi hingga dua siklus (42 hari) kemudian, sapi induk tersebut berhasil bunting. Untuk Meyakinkan bunting tidaknya perlu adanya Pemerikaan Kebuntingan (PKB), setelah 60 hari sejak dikawinkan, dapat dikaukan pemeriksaan kebuntingan dengan palpasi rektal, yaitu dengan ciri-ciri adanya pembesaran iterus seperti balon karet (10-16 cm) dan setelah hari ke-90 sebesar anak tikus. Induk setelah bunting tetap berada dalam kandang individu hinga beranak, namun ketika beranak diharapkan induk dikeluarkan dari kandang selama kurang lebih 7 – 10 hari dan selanjutnya dimasukkan ke kandang individu lagi.

Pustaka : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu (BPTP). Panduan Teknologi Mendukung Program PSDS. 2010

By mablu Posted in Tak Berkategori

Tanam Padi Dengan Sistem Jajar Legowo (Jarwo)

        Banyak hal yang mempengaruhi proses meningkatnya produksi padi, mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat sasaran, pengairan yang tepat, pengendalian hama penyakit, dan lain sebagainya. Pada saat ini ada cara yang bisa di tempuh oleh petani dalam proses meningkatkan produksi padi salah satu yang bisa di pilih yaitu dengan Cara Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

Sawak di kepala siring

Tanam Sistem Legowo 4 : 1 di Desa Belumai II Padi Vareitas Cigeulis di Sawah Palak Siring Bpk. Indra Sudrajat

Legowo diambil dari bahasa jawa yang berasal dari kata “Lego” yang berarti Luas dan “Dowo” yang berarti panjang. Tujuan utama dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir.

Tanam Legowo

Tanam padi sistem legowo 4 : 1 di Desa Air Apo tgl. 15 Des 2014 di Sawah Bpk. Abd. Rahman

Yang berdasarkan pengalaman, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak. Itulah sebabnya sistem jajar legowo menjadi salah satu pilihan dalam proses meningkatkan produksi gabah.

Tipe sistem jajar Legowo :

  1. Jajar Legowo 2:1 – Setiap dua baris diselingi satu baris yang kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan pada jarak tanam dalam baris yang memanjang di perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya.
  2. Jajar Legowo 3:1 – Setiap tiga baris tanaman padi di selingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya
  3. Jajar Legowo 4:1 – setiap empat baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya

Dilihat dari gambar Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo maka dapat dilihat peningkatan popolasi dari tanaman padi yang ditanam, secara umum rumus peningkatan jumlah populasi tanaman padi dapat dilihat dengan rumus 100% X  1 : ( 1 + jumlah legowo)

Sebagai Contoh :

  • Jika Legowo 2:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 2) = 33,3 %
  • Jika Legowo 3:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 3) = 25 %
  • Jika Legowo 4:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 4) = 20 %
  • Jika Legowo 5:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 5) = 16,7 %

Manfaat yang dirasakan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo :

Menambahnya jumlah tanaman padi

  1. Akan meningkatkan produksi tanaman padi secara signifikan
  2. Memperbaiki kualitas gabah karena akan semakin banyaknya tanaman pinggir
  3. Dapat mengurangi serangan penyakit pada tanaman padi
  4. Dapat mengurangi tingkat serangan hama tanaman padi
  5. Akan mempermudah dalam perawatan tanaman padi baik dalam proses pemupukan maupun penyemprotan pestisida
  6. Dapat menghemat pupuk, karena yang dipupuk hanya di bagian dalam baris tanaman saja

Kelemahan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo :

  1. Akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama pada saat melakukan proses penanaman padi
  2. Membutuhkan benih yang lebih banyak, ini dikarenakan  semakin banyaknya populasi tanaman padi
  3. Pada umumnya pada lahan yang menggunakan jajar legowo, maka akan lebih banyak ditumbuhi rumput

Daftar Pustaka :

http://www.informasipertanian.com/2013/07/tanam-padi-dengan-sistem-jajar-legowo.html

By mablu Posted in Tak Berkategori

PINJAMAN KKP-E KELOMPOK MEKAR Ds. BELUMAI II Ke BRI CABANG CURUP

         Pembangunan pertanian diharapkan dapat memperbaiki pendapatan penduduk secara merata dan berkelanjutan, karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Peran strategis pembangunan pertanian antara lain pembentukan kapital, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bio energi, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa negara dan sumber pendapatan serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan. Sejalan dengan target utama Kementerian Pertanian 2010-2014 meliputi: (1) pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; (2) peningkatan diversifikasi pangan; (3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor dan (4) peningkatan kesejahteraan petani. Strategi yang akan dilaksanakan adalah melakukan revitalisasi pertanian dengan fokus tujuh aspek dasar yang dinamakan dengan Tujuh Gema Revitalisasi, yang terdiri atas: (1) lahan; (2) perbenihan dan perbibitan; (3) infrastruktur dan sarana; (4) sumber daya manusia, (5) pembiayaan petani; (6) kelembagaan petani dan (7) teknologi dan industri hilir. Keberhasilan peningkatan produksi pangan Pembangunan pertanian diharapkan dapat memperbaiki pendapatan penduduk secara merata dan berkelanjutan, karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Sejalan dengan target utama Kementerian Pertanian 2010-2014 meliputi: (1) pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; (2) peningkatan diversifikasi pangan; (3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor dan (4) peningkatan kesejahteraan petani. Strategi yang akan dilaksanakan adalah melakukan revitalisasi pertanian dengan fokus tujuh aspek dasar yang dinamakan dengan Tujuh Gema Revitalisasi, yang terdiri atas: (1) lahan; (2) perbenihan dan perbibitan; (3) infrastruktur dan sarana; (4) sumber daya manusia, (5) pembiayaan petani; (6) kelembagaan petani dan (7) teknologi dan industri hilir. Keberhasilan peningkatan produksi pangan.

  1. Program Ketahanan Pangan adalah upaya peningkatan produksi dan produktivitas usaha pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan/atau perkebunan yang menghasilkan pangan nabati dan/atau hewani.
  2. Program Pengembangan Tanaman Bahan Baku Bahan Bakar Nabati adalah upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman penghasil bahan baku bahan bakar nabati untuk memenuhi kebutuhan sumber energi lain.
  3. Kredit Ketahanan Pangan dan Energi yang selanjutnya disebut KKP-E, adalah kredit investasi dan/atau modal kerja yang diberikan dalam rangka mendukung pelaksanaan Program Ketahanan Pangan dan Program Pengembangan Tanaman Bahan Baku Bahan Bakar Nabati.
  4. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok yang selanjutnya isebut RDKK, adalah rencana kebutuhan modal kerja dan atau investasi kelompok untuk usaha pertanian yang disusun berdasarkan musyawarah anggota kelompok dalam satu periode tertentu yang dilengkapi dengan jadwal pencairan dan pengembalian kredit.
  5. Rencana Kebutuhan Usaha Petani selanjutnya disebutRKU adalah rencana kebutuhan modal kerja atauinvestasi petani untuk usaha pertanian dalam satu periode tertentu yang dilengkapi jadwal pencairan dan pengembalian kredit.

            Program Ketahanan Pangan Tahun 2010-2014 difokuskan pada 5 (lima) komoditas pangan utama yaitu : padi (beras), jagung, kedelai, tebu (gula) dan daging sapi.

foto1293

Sapi Bpk. Jemu

Foto1767

Melengkapi Administrsi Kelompok “diskusi AO BRI Cabang Curup dan Pengurus Kel. Mekar”

            Pada tahun 2010 – 2013 kelompok ternak MEKAR desa belumai II, Kec. PU. Tanding, Kab. Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu telah mengajukan permohonan pinjaman KKP-E ke Pt. Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Curup untuk komoditi pengembangan ternak sapi bali. Alhamdhulilah, setelah kegitan berjalan selama 3 tahun pengembalian dana pinjaman KKP-E ke pihak BRI Cabang Curup dapat berjalan lancar dan tidak ada tunggakan dari kelompok. Jumlah ternak sapi bali yang dimiliki oleh anggota kelompok ternak berkembang yang semula 41 ekor dan sekarang menjadi 64 ekor, dari jumlah ternak tersebut kelompok ternak juga sudah dapat menjual bibit ternak/anak sapi kepada anggota kelompok atau masyarakat umum. Pada tahun ini 2014 kelompok ternak MEKAR akan mengajukan permohonan pinjaman KKP-E kembali ke BRI Cabang Curup, mudah-mudahan lancar dan dapat berjalan sesuai yang diinginkan sehingga dari kelompok ternak MEKAR desa Belumai 2 yang sekala usahanya masih kecil ini dapat juga mendukung program pemerintah untuk Sua Sembada Daging pada tahun 2014 ini, Aminn…..

Pemeriksaan sapi milik anggota kelompok

Pemeriksaan sapi milik anggota kelompok oleh pihak Bank

Pedoman Teknis Kredit Ketahanan Pangan dan Eenergi (KKP-E) th. 2014

By mablu Posted in Tak Berkategori

RDKK dan SISTEM PENYEDIAAN PUPUK BERSUBSIDI

RDKK dan SISTEM PENYEDIAAN PUPUK BERSUBSIDI

foto-pupuk

Salah Satu contoh pupuk Bersubsidi urea yang lama

Tujuan penyusunan RDKK (Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok Tani) adalah :

1)      Merencanakan kebutuhan riil pupuk untuk usaha tani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat/kecil, tanaman hijauan makanan ternak sesuai azas 6 (enam) tepat waktu yaitu tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu, tepat waktu, tepat tempat, dan tepat hijau.

2)      Menyalukan pupuk bersubsidi sesuai dengan peruntukannya.

3)      Membina petani dalam usahatani secara berencana.

Sasaran penyusunan RDKK adalah, terpenuhinya kebutuhan riil petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat/kecil, tanaman hijauan makanan ternak memperoleh pupuk bersubsidi sesuai dengan peruntukan, dan terbinanya petani dalam berusahatani secara berencana.

Pelaksanaan penyusunan RDKK

  1. 1. Penyusunan RDKK

RDKK sebagai dasar rencana pelayanan pupuk bersubsidi dari pengecer resmi yang akan dibeli oleh petani/kelompok tani secara tunai.

Tahapan penyusunan RDKK pupuk bersubsidi adalah sebagai berikut :

  1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang terdiri dari kontak tani/ketua kelompok tani, kelompok tani, sekretaris, bendahara dan kepala-kepala seksi.
  2. Musyawarah anggota kelompoktani dipimpin olek kontaktani/ketua  kelompok tani untuk menyusun daftar kebutuhan riil yang akan digunakan dari tiap anggota eompoktani dan menetapkan jumlah, jenis, dan waktu pupuk tersebut dibutuhkan. Daftar yang disusun akan berfugnsi sebagai pesan petani/ kelompok tani untuk membahas dan merumuskan RDKK dengan menampung hasil musyawarah aggota kelompok tani tentang recana kebutuhan kelompok tani.
  3. Pertemuan pengurus kelompok tani untuk membahas dan merumuskan RDKK dengan menampung hasil musyawarah anggota kelompok tani tentang rencana kebutuhan kelompok tani.
  4. Meneliti kelengkapan RDKK penandatanganan RDKK oleh kontaktani/ ketua kelompoktani yang diketahui oleh kepala desa dan disetujui oleh Kepala Cabang Dinas Pertanian (KCD) atau Mantri tani (Mantan).
  1. 2. Tahap Pengiriman RDKK

Proses pengiriman RDKK dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  1. RDKK disusun sebagai instrumen pesanan pupuk.
  2. RDKK disusun rangkap 3 (tiga) dan setelah ditandatangani, untuk lembar pertama segera dikirimkan kepengecer resmi sebagai pesanan pupuk, lembar kedua dikirim kemantri tani/KCD/ PPL dan lebar ketiga merupakan arsip di kelompok tani.
  3. Pengecer resmi menyusun rekapitulasi RDKK berdasarkan RDKK yang diterima dari kelompok tani yang menjadi binaannya untuk diajukan kedistributor pupuk yang ditunjuk oleh produsen pupuk.
  4. Penilaian atas rekapitulasi RDKK disesuaikan dengan rencana/sasaran areal tanam setempat oleh mantra tani/KCD/PPL dan diketahui oleh kepala desa.
  5. Mantri tani/KCD/PPL menyusun rekapitulasi RDKK dari kelompok tani dan disampaikan kepada Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota sebagai dasar Dinas Pertanian Kabupaten/ kota untuk melakukan penyesuaian dengan kuota/ alokasi kebutuhan pupuk bersubsidi yang ditetapkan dalam keputusan bupati/ Walikota.
  6. Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota menyusun rekapitulasi RDKK dari Mantri tani/KCD/ PPL untuk dilaporkan dan dikoordinasikan dengan Dinas Pertanian Propinsi dalam melakukan Kontrolbersubsidi sesuai kebutuhan wilayah setempat mengacu kepada rencana kebutuhan yang ditetapkan dalam keputusan Gubernur/ Permentan.
  1. 3. Tahap Penyaluran

Penyaluran pupuk bersubsidi dapat dilakukan oleh pengecer resmi dan kelompoktani/ koprasi tani sepanjang terdaftar ditunjukkan sebagi pengecer resmi dengan tahapan sebagai berikut :

Penyediaan pupuk besubsidi di LKD GADING Air Apo oleh pengecer resmi Alya Tani Kepala Curup

Penyediaan pupuk besubsidi di LKD GADING Air Apo oleh pengecer resmi Alya Tani Kepala Curup

  1. Pengecer resmi mengatur jadual pertemuan dengan ketua kelompoktanidan petani untuk menyalurkan pupuk bersubsidi.
  2. Pengecer resmi melakukan konfirmasi ulang terhadap data yang tercantum dalam RDKK guna mengantisipasi adanya perubahan usulan petani dan penyalah gunaan peruntukan pupuk bersubsidi.
  3. Petani/ kelompok tani menerima pupuk dari pengecer resmi dalam bentuk pupuk sesuai dengan kesepakatan yang telah diputuskan bersama sebelumnya.

Pengisian dan pengajuan RDKK

Pengisian dan pengajuan RDKK untuk pupuk bersubsidi oleh petani dilakukan melalui kelompok tani tanman pangan. Bagi petani tanaman pangan, patani hortikultura, petani perkebunan rakyat/kecil, dan petani tanaman hijau makanan ternak yang belum mempuyai kelompok tani di masa transisi (mengingat priode musim tanam Oktober-Maret 2005/ 2006 yaitu sampai dengan maret 2006), dapt dilayani secara perorangan dengan tetap mengisi dan menagjukan RDKK melalui bimbingan petugas setempat yang berwenag, namun disarankan agar segera menumbuhkan kelompok tani.

Formulir RDKK disediakan, diperbanyak dan diedarkan oleh Dinas Pertanian Propinsi melalui dana Dekonsentrasi dan APBD Tk I, dengan format tertera pada lampiran 2.

Adapun cara pengisian formulir RDKK sebagai berikut :

  1. Musim Tanam
  2. Propinsi/ Kabupaten/ Kecamatan/ Desa
  3. Nama Kelompok Tani
  4. Komoditi: untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat/ kecil, tanaman makanan hijauan makanan ternak
  5. Nama distributor / pengecer resmi : tulis denaga jelas
  6. Nama petani : tulis petani yang akan membutuhkan/ membeli pupuk bersubsidi sesuai kondisi usaha taninya.
  7. Luas tanaman : tulis luas areal tanaman membutuhkan pupuk bersubsidi.
  8. Jumlah kebutuhan pupuk : tulis jumlah pupuk yang dibutuhkan sesuai komoditi dan luas areal tanam usahatani, dan rekomendasi dosis pemupukan untuk wilayah setempat.
  9. Tanggal pegunaan : disesuaikan dengan jadual tanam/ penggunaan pupuk.

Setelah RDKK diisi, tandatangani oleh kontaktani/ ketua kelompoktani yang disetujui oleh Kepala Cabang Dinas Pertanian (KCD) atau Manti Tani (Mantan) dan diketahui oleh kepala Desa/ Lurah untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan prosedur.

Sumber :

Sinar Tani Edisi 12 – 18 Juli 2006 No. 3158 tahun XXXVI

By mablu Posted in Tak Berkategori

JENIS-JENIS HAMA PENGEREK BATANG PADI

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

 pengerek batang padi

 

  1. Pengerek Batang Padi Putih(Tryporyza innotata)

Tryporyza innotata dinamakan pengerek batang padi putih karena ngegatnya berwarna putih. Dahulu hama ini dikenal hama yang menghuni hamparan sawah tadah hujan. Hama ini dominan didaerah tadah hujan karena ham aini mampu berpuasa 3 sampai 6 bulan pada saat tanah sedang kering dan tidak ada tanaman padi. Namun demikian hama ini justru lebih banyak ditemukan didaerah berpengairan teknisseperti di jalur pantura (pantai utara jawa). Perubahan prilaku ini diduga merupakan akibat dari pembangunan saluran irigasi dan pengaruh pestisida yang digunakan secara terus menerus.

 

  1. Pengerek Batang Padi Kuning (Scirpopaga incertulas)

Scirpopaga incertulas atau disebut juga Tryporyza incertulas dkenal sebagai pengerek batang padi kuning karena ngegatnya berwarna kuning kecoklatan. Ciri lain dari ngegat ini adalah titik hitam dibagian belakang sayap depannya. Pada ngegat betina titik hitam ini lebih besar dan lebih jelas disbanding dengan titik hitam yang ada pada ngegat jantan. Dahulu hama ini dikenal sebagai hama yang ada pada pengairan yang baik dimana ngegat tidak mengalami masa puasa. Namun demikian kini hama ini justru menyebar di daerah yang menanam padi dua kali setahun.

 

  1. Pengerek Batang Padi Merah Jambu (Sesamia inferen)

Sesamia inferen disebut sedagai pengerek batang padi merah jambu karena ulatnya berwarna merah jambu. Pengerek batang ini tidaklah sepenting pengerek batang padi putih dan pengerek batang padi kuning. Populasinnya hanya sedikit dan belum pernah dilaporkan yang mengakibatkan kerusakan serius. Pengerek batang padi merah jambu hanya menyerang bersama-sama dengan pengerek batang padi kuning atau pengerek batang apadi putih.

 

  1. Pengerek Batang Padi Bergaris ( Chilo supressalis)

Chilo supressalis disebut pengerek batang apdi bergaris karena ulatnya memiliki dua garis memanjang. Hama ini juga tidak terlalu mengakibatkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi.

 

  1. Pengerek Batang Padi Berkepala Hitam (Chilo polychrysus)

Chilo polychrysus disebut pengerek batang padi berkepala hitam karena ngengatnya berkepala hitam. Dan hama ini juga tidak menimbulkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi.

 

  1. Pengerek Batang Padi Mata Bertungkai (Diopsis macropthalma)

Diopsis macropthalma disebut penegerek batang padi mata bertangkai karena bagian kepalanya mempunyai tonjolan berwarna merah yang bagian ujungnya membulat seperti mata yang bertangkai. Hama ini ditemukan dibenua Afrika.

 

BEBERAPA MUSUH ALAMI DARI HAMA PENGEREK BATANG PADI :

pada saat pengerek batang padi masih berupa telur, pengerek batang padi ini mempunyai musuh alami sebagai berikut :

 

  1. Parasit Telur Telenomus

Parasit telur Telenomus (Telenomus rowani;Hymenoptera;Scelionidae) merupakan parsit kecil berwarna hitam yang memparasiti telur-telur pengerek batang padi.tabuhan telenomus mencari ngegat betina pengerek batang yang telah siap bertelur dan kemudian hinggap di ujung perut ngegat dewasa, dekat dengan ovipositor (alat untuk meletakkan telur). Ketika ngegat mulai bertelur, tabuhan ini segera menitipkan telurnya dengan menyuntikkan kedalam telur-telur yang abru keluar dari ngegat-ngengat dewasa. Setelah 10-14 hari, yang keluar dari kelompok telur tersebut bukan ulat pengerek batang padi namun yang keluar tersebut adalah tabuhan telenomus baru yang siap mengamankan sawah dari serangan pengerek batang padi. Tingkat parasitasi tabuhan telenomus dilapangan adalah antara 36%-90%.

 

  1. Parasit Trichogramma

Parasit Trichogramma (Trichogramma japonicum; Hymenoptera; Trichogrammitidae) ini berwarna hitam, lebih kecil dari semut. Hama ini sering muncul dari kelompok telur pengerek batang. Parasit ini meletakkan telur dengan menyuntikkan ovipositornya diantara bulu-bulu halus yang menutup telur. Telur parasit diletakkan satu per satu pada tiap telur pengerek batang. Tingkat parsitasi dilapangan berkisar antara 40%.

 

  1. Jangkrik Ekor Pedang

Jangkrik ekor pedang (Metioche vittaticollis atau Anaxpha longipennis; Orthroptera: Gryllidae) merupakan jangkrik pemangsa. Jangkrik ini disebut jangkrik ekor pedang karena memiliki ekor seperti pedang. Cirri lain dari jangkrik ekor pedang adalah sungutnya yang panjang sehingga dibeberapa tempat jangkrik ini juga disebut jangkrik sungut panjang.bukan hanya jangkrik dewasa, jangkrik ekor pedang muda pun merupakan pemangsa kelompok telur pengerek batang padi yang rakus.

 

Dan masih banyak musuh-musuh lami yang lain, yang memangsa dari hama pengerek batang padi sesuai dengan fase-fase dari hama pengerek batang tersebut. Musuh-musuh alami ini dapat digunakan dalam pertanian organic yang memamnfaatkan musuk alami sebagai pengendali hama dan bukan mengunakan pestisida yang dapat membunuh segala macam mahluk hidup yang ada diekosistem tersebut.

Pustaka :Handoko Widagdo.1994. Pengendalian Hama Pengerek Batang Padi. Andi Offset, Yogyakarta.