PERBANYAKAN PALA SECARA GENERATIF (BIJI)

Pemilihan Biji

Perbanyakan dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam hal ini biji yang digunakan berasal dari

  1. Biji sapuan : biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti mengenai pohon induknya
  2. Biji terpilih : biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal ini ada 3 macam biji terpilih, yaitu: (1) biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui); (2) biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas diketahui; (3) biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih.
Foto2758

Contoh Biji sapuan, biji yang masih terbungkus fuli rapat yang akan dijadikan bahan bibit

Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat: (1) pohon dewasa yang tumbuhnya sehat; (2) mampu berproduksi tinggi dan kwalitasnya baik.

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor: KB.010/42/SK/ DJ. BUN/9/1984, telah ditetapkan dan dipilih pohon induk yang dapat dipergunakan sebagai sumber benih yang tersebar di 4 propinsi, yaitu: Sumatera Barat, Jawa Barat, Sulawesi Utara dan Maluku. Biji-biji dari pohon induk terpilih yang akan digunakan sebagai benih harus diseleksi, yaitu dipilih biji-biji yang ukurannya besar dengan bobot minimum 50 gram/biji, berbentuk agak bulat dan simetris, kulit biji berwarna coklat kehitam-hitaman dan mengkilat, tidak terserang oleh hama dan penyakit. Buah pala yang dipetik dari pohon dan akan dijadikan benih harus segera diambil bijinya, paling lambat dalam waktu 24 jam biji-biji tersebut harus sudah disemaikan. Hal ini disebabkan oleh sifat biji pala yang daya berkecambahnya dapat cepat menurun.

Penyemaian :

Tanah tempat penyemaian harus dekat sumber air untuk lebih memudahkan melakukan penyiraman pesemaian. Tanah yang akan dipakai untuk penyemaian harus dipilih tanah yang subur dan gembur. Tanah diolah dengan cangkul dengan kedalaman olahan sekitar 20 cm dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase.

Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh ini adalah agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu terlindungi oleh peneduh.

Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya merata dan tidak sampai terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji pala disemaikan dengan membenamkan biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-biji adalah 15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih pada kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah menjaga tanah bedengan tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari gulma).

Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak.

Polybag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi atap pelindung berupa anyaman daun kelapa/jerami.

Pemeliharaan dalam polybag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap bersih dari gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap basah namun tidak tergantung air. Agar tidak tergenang air, bagian bawahnya dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air siraman/air hujan.

Bibit-bibit tersebut dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk TSP dan urea masing-masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di atas permukaan media tumbuh kemudian langsung disiram. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 3–5 batang cabang, maka bibit ini dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.

Foto2755

Bibit pala siap tanam umur 1,5 – 2 tahun di lahan kebun pala Bpk. A. Rokhim Ds. Air Apo, Kec. Binduriang, Kab. Rejang Lebong (penggarap Bpk. Amru)

Hama yang dapat menyerang biji pala dalam persemaian :

Kumbang Aeroceum fariculatus

Hama kumbang berukuran kecil dan sering menyerang biji pala. Imagonnya menggerek biji dan meletakkan telur di dalamnya. Di dalam biji tersebut, telur akan menetas dan menjadi larva yang dapat menggerek biji pala secara keseluruhan.

Hama ini dapat menyerang biji pala yang masih dalam pesemaian sehingga dapat menyebabkan bibit pala yang masih berukuran kecil mati, dikarenakan daging biji pala dijadikan tempat meletakkan telur oleh imago Kumbang Aeroceum fariculatus.

Foto2815

Biji pala di lahan persemaian Bpk. Didi Darmadi Ds. Belumai II, yang terserang hama kumbang penggerek biji pala. di biji buah banyak terdapat telur dan larva kumbang.

Sumber : http://www.ristek.go.id dan pengamatan lapangan.

By mablu Posted in Tak Berkategori

KECAMATAN PADANG ULAK TANDING (PUT), Kab. R/L

Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) terdiri dari 14 Desa dan 1 kelurahan dengan luas wilayah seluruhnya 43.157 Ha, dengan batas – batas wilayah sebagai berikut :

Peta Edit

Peta Kec. PUT Program GIS 3,3 sumber Kantor Camat PUT 2014

  • Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Propinsi Jambi
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Kecamatan Sindang Ulu
  • Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Binduriang.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kecamatan Sindang Beliti Ilir dan Propinsi Sumatra Selatan.

Jarak BP3K PU. Tanding dengan Ibukota Kecamatan Padang Ulak Tanding ± 0,5 Km, dengan Ibukota Kabupaten 46 Km, dengan ibukota Propinsi 120 Km.

No.

Desa /

Kelurahan

Luas Wilayah

( Ha )

Jenis Lahan / Ha

Lahan Sawah

Lahan Kering

1

2

3

4

5

1

KEC. PU.TANDING

Pasar PU. Tanding

2.367

21,0

262

2

Ulak Tanding

1.635

11,0

65

3

Taba Tinggi

2.786

74,0

298

4

Muara Telita

1.789

15,0

175

5

Ujan Panas

1.554

11,0

105

6

Tak Toi

2.415

65,0

275

7

Belumai I

1.658

120,0

30

8

Belimai II

1.674

80,0

95

9

Kasie Kasubun

2.480

35,0

304

10

Bukit Batu

2.396

17,0

287

11

Tanjung Sanai   I

1.811

23,0

265

12

Tanjung Sanai   II

1.957

24,0

193

13

Air Kati

1.510

65,0

250

14

Guru Agung

2.681

23,0

243

15

Karang Baru

2.519

12,0

256

Sumber Data Programa BPP PUT
By mablu Posted in Tak Berkategori

Teknik Pemeriksaan Kebuntingan Sapi

         Teknik perkawinan sapi potong dapat dilakukan dengan menggunakan (1) intensifikasi kawin alam (IKA) dengan pejantan terpilih, (2) teknik inseminasi buatan (IB) dengan semen beku (frozen semen) dan IB dengan semen cair (chilled semen).

Foto1298

Model Perkawinan Padang Pengembalaan (angonan) di lahan Bpk. Jemu Desa Belumai II

Pengamatan birahi pada sapi betina yang siap untuk di kawinkan dapat dilakukan setiap hari pada waktu pagi dan sore hari dengan melihat gejala birahi secara langsung dengan tanda-tanda estrus. Apabila birahi pagi hari, maka dikawinkan pada sore hari dan apabila birahi sore hari, maka dikawinkan besok pagi hingga siang. Persentasi kejadian birahi dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

Persentase Waktu Kejadian Birahi Pada Sapi Induk :

Waktu Birahi

Persentasi gejala birahi (%)

06.00 – 12.00

12.00 – 18.00

18.00 – 24.00

24.00 – 08.00

22

10

25

43

Setelah 6 – 12 jam terlihat gejala birahi, sapi betina siap untuk dikawinkan dengan pejantan pilihan atau menggunakan tehnik kawi IB.

Foto2731

Pemeriksaan Kebuntingan Sapi Oleh Dinas Peternakan Kab. R/L. Tgl. 22 Des 2014 di Kelompok Tani Tunas Muda, peternak mendapatkan bantuan dana Rp. 400.000,-/per ekor sapi yang bunting diatas 5 bulan.

Setelah 21 hari (hari ke 19 – 23) dari perkawinan, dilakukan pegamatan birahi lagi dan apabila tidak ada gejala birahi hingga dua siklus (42 hari) kemudian, sapi induk tersebut berhasil bunting. Untuk Meyakinkan bunting tidaknya perlu adanya Pemerikaan Kebuntingan (PKB), setelah 60 hari sejak dikawinkan, dapat dikaukan pemeriksaan kebuntingan dengan palpasi rektal, yaitu dengan ciri-ciri adanya pembesaran iterus seperti balon karet (10-16 cm) dan setelah hari ke-90 sebesar anak tikus. Induk setelah bunting tetap berada dalam kandang individu hinga beranak, namun ketika beranak diharapkan induk dikeluarkan dari kandang selama kurang lebih 7 – 10 hari dan selanjutnya dimasukkan ke kandang individu lagi.

Pustaka : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu (BPTP). Panduan Teknologi Mendukung Program PSDS. 2010

By mablu Posted in Tak Berkategori

Tanam Padi Dengan Sistem Jajar Legowo (Jarwo)

        Banyak hal yang mempengaruhi proses meningkatnya produksi padi, mulai dari penggunaan bibit unggul, pemupukan yang tepat sasaran, pengairan yang tepat, pengendalian hama penyakit, dan lain sebagainya. Pada saat ini ada cara yang bisa di tempuh oleh petani dalam proses meningkatkan produksi padi salah satu yang bisa di pilih yaitu dengan Cara Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo

Sawak di kepala siring

Tanam Sistem Legowo 4 : 1 di Desa Belumai II Padi Vareitas Cigeulis di Sawah Palak Siring Bpk. Indra Sudrajat

Legowo diambil dari bahasa jawa yang berasal dari kata “Lego” yang berarti Luas dan “Dowo” yang berarti panjang. Tujuan utama dari Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo yaitu meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di pinggir.

Tanam Legowo

Tanam padi sistem legowo 4 : 1 di Desa Air Apo tgl. 15 Des 2014 di Sawah Bpk. Abd. Rahman

Yang berdasarkan pengalaman, tanaman padi yang berada di pinggir akan menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak. Itulah sebabnya sistem jajar legowo menjadi salah satu pilihan dalam proses meningkatkan produksi gabah.

Tipe sistem jajar Legowo :

  1. Jajar Legowo 2:1 – Setiap dua baris diselingi satu baris yang kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan pada jarak tanam dalam baris yang memanjang di perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya.
  2. Jajar Legowo 3:1 – Setiap tiga baris tanaman padi di selingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya
  3. Jajar Legowo 4:1 – setiap empat baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali jarak tanam, dan untuk Jarak tanam tanaman padi yang dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam barisannya

Dilihat dari gambar Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo maka dapat dilihat peningkatan popolasi dari tanaman padi yang ditanam, secara umum rumus peningkatan jumlah populasi tanaman padi dapat dilihat dengan rumus 100% X  1 : ( 1 + jumlah legowo)

Sebagai Contoh :

  • Jika Legowo 2:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 2) = 33,3 %
  • Jika Legowo 3:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 3) = 25 %
  • Jika Legowo 4:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 4) = 20 %
  • Jika Legowo 5:1 maka peningkatan populasinya yaitu 100%  X  1 : (1 + 5) = 16,7 %

Manfaat yang dirasakan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo :

Menambahnya jumlah tanaman padi

  1. Akan meningkatkan produksi tanaman padi secara signifikan
  2. Memperbaiki kualitas gabah karena akan semakin banyaknya tanaman pinggir
  3. Dapat mengurangi serangan penyakit pada tanaman padi
  4. Dapat mengurangi tingkat serangan hama tanaman padi
  5. Akan mempermudah dalam perawatan tanaman padi baik dalam proses pemupukan maupun penyemprotan pestisida
  6. Dapat menghemat pupuk, karena yang dipupuk hanya di bagian dalam baris tanaman saja

Kelemahan ketika Tanam Padi dengan Sistem Jajar Legowo :

  1. Akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama pada saat melakukan proses penanaman padi
  2. Membutuhkan benih yang lebih banyak, ini dikarenakan  semakin banyaknya populasi tanaman padi
  3. Pada umumnya pada lahan yang menggunakan jajar legowo, maka akan lebih banyak ditumbuhi rumput

Daftar Pustaka :

http://www.informasipertanian.com/2013/07/tanam-padi-dengan-sistem-jajar-legowo.html

By mablu Posted in Tak Berkategori

PINJAMAN KKP-E KELOMPOK MEKAR Ds. BELUMAI II Ke BRI CABANG CURUP

         Pembangunan pertanian diharapkan dapat memperbaiki pendapatan penduduk secara merata dan berkelanjutan, karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Peran strategis pembangunan pertanian antara lain pembentukan kapital, penyediaan bahan pangan, bahan baku industri, pakan dan bio energi, penyerapan tenaga kerja, sumber devisa negara dan sumber pendapatan serta pelestarian lingkungan melalui praktek usahatani yang ramah lingkungan. Sejalan dengan target utama Kementerian Pertanian 2010-2014 meliputi: (1) pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; (2) peningkatan diversifikasi pangan; (3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor dan (4) peningkatan kesejahteraan petani. Strategi yang akan dilaksanakan adalah melakukan revitalisasi pertanian dengan fokus tujuh aspek dasar yang dinamakan dengan Tujuh Gema Revitalisasi, yang terdiri atas: (1) lahan; (2) perbenihan dan perbibitan; (3) infrastruktur dan sarana; (4) sumber daya manusia, (5) pembiayaan petani; (6) kelembagaan petani dan (7) teknologi dan industri hilir. Keberhasilan peningkatan produksi pangan Pembangunan pertanian diharapkan dapat memperbaiki pendapatan penduduk secara merata dan berkelanjutan, karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Sejalan dengan target utama Kementerian Pertanian 2010-2014 meliputi: (1) pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan; (2) peningkatan diversifikasi pangan; (3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor dan (4) peningkatan kesejahteraan petani. Strategi yang akan dilaksanakan adalah melakukan revitalisasi pertanian dengan fokus tujuh aspek dasar yang dinamakan dengan Tujuh Gema Revitalisasi, yang terdiri atas: (1) lahan; (2) perbenihan dan perbibitan; (3) infrastruktur dan sarana; (4) sumber daya manusia, (5) pembiayaan petani; (6) kelembagaan petani dan (7) teknologi dan industri hilir. Keberhasilan peningkatan produksi pangan.

  1. Program Ketahanan Pangan adalah upaya peningkatan produksi dan produktivitas usaha pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan/atau perkebunan yang menghasilkan pangan nabati dan/atau hewani.
  2. Program Pengembangan Tanaman Bahan Baku Bahan Bakar Nabati adalah upaya peningkatan produksi dan produktivitas tanaman penghasil bahan baku bahan bakar nabati untuk memenuhi kebutuhan sumber energi lain.
  3. Kredit Ketahanan Pangan dan Energi yang selanjutnya disebut KKP-E, adalah kredit investasi dan/atau modal kerja yang diberikan dalam rangka mendukung pelaksanaan Program Ketahanan Pangan dan Program Pengembangan Tanaman Bahan Baku Bahan Bakar Nabati.
  4. Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok yang selanjutnya isebut RDKK, adalah rencana kebutuhan modal kerja dan atau investasi kelompok untuk usaha pertanian yang disusun berdasarkan musyawarah anggota kelompok dalam satu periode tertentu yang dilengkapi dengan jadwal pencairan dan pengembalian kredit.
  5. Rencana Kebutuhan Usaha Petani selanjutnya disebutRKU adalah rencana kebutuhan modal kerja atauinvestasi petani untuk usaha pertanian dalam satu periode tertentu yang dilengkapi jadwal pencairan dan pengembalian kredit.

            Program Ketahanan Pangan Tahun 2010-2014 difokuskan pada 5 (lima) komoditas pangan utama yaitu : padi (beras), jagung, kedelai, tebu (gula) dan daging sapi.

foto1293

Sapi Bpk. Jemu

Foto1767

Melengkapi Administrsi Kelompok “diskusi AO BRI Cabang Curup dan Pengurus Kel. Mekar”

            Pada tahun 2010 – 2013 kelompok ternak MEKAR desa belumai II, Kec. PU. Tanding, Kab. Rejang Lebong, Propinsi Bengkulu telah mengajukan permohonan pinjaman KKP-E ke Pt. Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Curup untuk komoditi pengembangan ternak sapi bali. Alhamdhulilah, setelah kegitan berjalan selama 3 tahun pengembalian dana pinjaman KKP-E ke pihak BRI Cabang Curup dapat berjalan lancar dan tidak ada tunggakan dari kelompok. Jumlah ternak sapi bali yang dimiliki oleh anggota kelompok ternak berkembang yang semula 41 ekor dan sekarang menjadi 64 ekor, dari jumlah ternak tersebut kelompok ternak juga sudah dapat menjual bibit ternak/anak sapi kepada anggota kelompok atau masyarakat umum. Pada tahun ini 2014 kelompok ternak MEKAR akan mengajukan permohonan pinjaman KKP-E kembali ke BRI Cabang Curup, mudah-mudahan lancar dan dapat berjalan sesuai yang diinginkan sehingga dari kelompok ternak MEKAR desa Belumai 2 yang sekala usahanya masih kecil ini dapat juga mendukung program pemerintah untuk Sua Sembada Daging pada tahun 2014 ini, Aminn…..

Pemeriksaan sapi milik anggota kelompok

Pemeriksaan sapi milik anggota kelompok oleh pihak Bank

Pedoman Teknis Kredit Ketahanan Pangan dan Eenergi (KKP-E) th. 2014

By mablu Posted in Tak Berkategori

RDKK dan SISTEM PENYEDIAAN PUPUK BERSUBSIDI

RDKK dan SISTEM PENYEDIAAN PUPUK BERSUBSIDI

foto-pupuk

Salah Satu contoh pupuk Bersubsidi urea yang lama

Tujuan penyusunan RDKK (Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok Tani) adalah :

1)      Merencanakan kebutuhan riil pupuk untuk usaha tani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat/kecil, tanaman hijauan makanan ternak sesuai azas 6 (enam) tepat waktu yaitu tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu, tepat waktu, tepat tempat, dan tepat hijau.

2)      Menyalukan pupuk bersubsidi sesuai dengan peruntukannya.

3)      Membina petani dalam usahatani secara berencana.

Sasaran penyusunan RDKK adalah, terpenuhinya kebutuhan riil petani tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat/kecil, tanaman hijauan makanan ternak memperoleh pupuk bersubsidi sesuai dengan peruntukan, dan terbinanya petani dalam berusahatani secara berencana.

Pelaksanaan penyusunan RDKK

  1. 1. Penyusunan RDKK

RDKK sebagai dasar rencana pelayanan pupuk bersubsidi dari pengecer resmi yang akan dibeli oleh petani/kelompok tani secara tunai.

Tahapan penyusunan RDKK pupuk bersubsidi adalah sebagai berikut :

  1. Pertemuan pengurus kelompok tani yang terdiri dari kontak tani/ketua kelompok tani, kelompok tani, sekretaris, bendahara dan kepala-kepala seksi.
  2. Musyawarah anggota kelompoktani dipimpin olek kontaktani/ketua  kelompok tani untuk menyusun daftar kebutuhan riil yang akan digunakan dari tiap anggota eompoktani dan menetapkan jumlah, jenis, dan waktu pupuk tersebut dibutuhkan. Daftar yang disusun akan berfugnsi sebagai pesan petani/ kelompok tani untuk membahas dan merumuskan RDKK dengan menampung hasil musyawarah aggota kelompok tani tentang recana kebutuhan kelompok tani.
  3. Pertemuan pengurus kelompok tani untuk membahas dan merumuskan RDKK dengan menampung hasil musyawarah anggota kelompok tani tentang rencana kebutuhan kelompok tani.
  4. Meneliti kelengkapan RDKK penandatanganan RDKK oleh kontaktani/ ketua kelompoktani yang diketahui oleh kepala desa dan disetujui oleh Kepala Cabang Dinas Pertanian (KCD) atau Mantri tani (Mantan).
  1. 2. Tahap Pengiriman RDKK

Proses pengiriman RDKK dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :

  1. RDKK disusun sebagai instrumen pesanan pupuk.
  2. RDKK disusun rangkap 3 (tiga) dan setelah ditandatangani, untuk lembar pertama segera dikirimkan kepengecer resmi sebagai pesanan pupuk, lembar kedua dikirim kemantri tani/KCD/ PPL dan lebar ketiga merupakan arsip di kelompok tani.
  3. Pengecer resmi menyusun rekapitulasi RDKK berdasarkan RDKK yang diterima dari kelompok tani yang menjadi binaannya untuk diajukan kedistributor pupuk yang ditunjuk oleh produsen pupuk.
  4. Penilaian atas rekapitulasi RDKK disesuaikan dengan rencana/sasaran areal tanam setempat oleh mantra tani/KCD/PPL dan diketahui oleh kepala desa.
  5. Mantri tani/KCD/PPL menyusun rekapitulasi RDKK dari kelompok tani dan disampaikan kepada Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota sebagai dasar Dinas Pertanian Kabupaten/ kota untuk melakukan penyesuaian dengan kuota/ alokasi kebutuhan pupuk bersubsidi yang ditetapkan dalam keputusan bupati/ Walikota.
  6. Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota menyusun rekapitulasi RDKK dari Mantri tani/KCD/ PPL untuk dilaporkan dan dikoordinasikan dengan Dinas Pertanian Propinsi dalam melakukan Kontrolbersubsidi sesuai kebutuhan wilayah setempat mengacu kepada rencana kebutuhan yang ditetapkan dalam keputusan Gubernur/ Permentan.
  1. 3. Tahap Penyaluran

Penyaluran pupuk bersubsidi dapat dilakukan oleh pengecer resmi dan kelompoktani/ koprasi tani sepanjang terdaftar ditunjukkan sebagi pengecer resmi dengan tahapan sebagai berikut :

Penyediaan pupuk besubsidi di LKD GADING Air Apo oleh pengecer resmi Alya Tani Kepala Curup

Penyediaan pupuk besubsidi di LKD GADING Air Apo oleh pengecer resmi Alya Tani Kepala Curup

  1. Pengecer resmi mengatur jadual pertemuan dengan ketua kelompoktanidan petani untuk menyalurkan pupuk bersubsidi.
  2. Pengecer resmi melakukan konfirmasi ulang terhadap data yang tercantum dalam RDKK guna mengantisipasi adanya perubahan usulan petani dan penyalah gunaan peruntukan pupuk bersubsidi.
  3. Petani/ kelompok tani menerima pupuk dari pengecer resmi dalam bentuk pupuk sesuai dengan kesepakatan yang telah diputuskan bersama sebelumnya.

Pengisian dan pengajuan RDKK

Pengisian dan pengajuan RDKK untuk pupuk bersubsidi oleh petani dilakukan melalui kelompok tani tanman pangan. Bagi petani tanaman pangan, patani hortikultura, petani perkebunan rakyat/kecil, dan petani tanaman hijau makanan ternak yang belum mempuyai kelompok tani di masa transisi (mengingat priode musim tanam Oktober-Maret 2005/ 2006 yaitu sampai dengan maret 2006), dapt dilayani secara perorangan dengan tetap mengisi dan menagjukan RDKK melalui bimbingan petugas setempat yang berwenag, namun disarankan agar segera menumbuhkan kelompok tani.

Formulir RDKK disediakan, diperbanyak dan diedarkan oleh Dinas Pertanian Propinsi melalui dana Dekonsentrasi dan APBD Tk I, dengan format tertera pada lampiran 2.

Adapun cara pengisian formulir RDKK sebagai berikut :

  1. Musim Tanam
  2. Propinsi/ Kabupaten/ Kecamatan/ Desa
  3. Nama Kelompok Tani
  4. Komoditi: untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat/ kecil, tanaman makanan hijauan makanan ternak
  5. Nama distributor / pengecer resmi : tulis denaga jelas
  6. Nama petani : tulis petani yang akan membutuhkan/ membeli pupuk bersubsidi sesuai kondisi usaha taninya.
  7. Luas tanaman : tulis luas areal tanaman membutuhkan pupuk bersubsidi.
  8. Jumlah kebutuhan pupuk : tulis jumlah pupuk yang dibutuhkan sesuai komoditi dan luas areal tanam usahatani, dan rekomendasi dosis pemupukan untuk wilayah setempat.
  9. Tanggal pegunaan : disesuaikan dengan jadual tanam/ penggunaan pupuk.

Setelah RDKK diisi, tandatangani oleh kontaktani/ ketua kelompoktani yang disetujui oleh Kepala Cabang Dinas Pertanian (KCD) atau Manti Tani (Mantan) dan diketahui oleh kepala Desa/ Lurah untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan prosedur.

Sumber :

Sinar Tani Edisi 12 – 18 Juli 2006 No. 3158 tahun XXXVI

By mablu Posted in Tak Berkategori

JENIS-JENIS HAMA PENGEREK BATANG PADI

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

 pengerek batang padi

 

  1. Pengerek Batang Padi Putih(Tryporyza innotata)

Tryporyza innotata dinamakan pengerek batang padi putih karena ngegatnya berwarna putih. Dahulu hama ini dikenal hama yang menghuni hamparan sawah tadah hujan. Hama ini dominan didaerah tadah hujan karena ham aini mampu berpuasa 3 sampai 6 bulan pada saat tanah sedang kering dan tidak ada tanaman padi. Namun demikian hama ini justru lebih banyak ditemukan didaerah berpengairan teknisseperti di jalur pantura (pantai utara jawa). Perubahan prilaku ini diduga merupakan akibat dari pembangunan saluran irigasi dan pengaruh pestisida yang digunakan secara terus menerus.

 

  1. Pengerek Batang Padi Kuning (Scirpopaga incertulas)

Scirpopaga incertulas atau disebut juga Tryporyza incertulas dkenal sebagai pengerek batang padi kuning karena ngegatnya berwarna kuning kecoklatan. Ciri lain dari ngegat ini adalah titik hitam dibagian belakang sayap depannya. Pada ngegat betina titik hitam ini lebih besar dan lebih jelas disbanding dengan titik hitam yang ada pada ngegat jantan. Dahulu hama ini dikenal sebagai hama yang ada pada pengairan yang baik dimana ngegat tidak mengalami masa puasa. Namun demikian kini hama ini justru menyebar di daerah yang menanam padi dua kali setahun.

 

  1. Pengerek Batang Padi Merah Jambu (Sesamia inferen)

Sesamia inferen disebut sedagai pengerek batang padi merah jambu karena ulatnya berwarna merah jambu. Pengerek batang ini tidaklah sepenting pengerek batang padi putih dan pengerek batang padi kuning. Populasinnya hanya sedikit dan belum pernah dilaporkan yang mengakibatkan kerusakan serius. Pengerek batang padi merah jambu hanya menyerang bersama-sama dengan pengerek batang padi kuning atau pengerek batang apadi putih.

 

  1. Pengerek Batang Padi Bergaris ( Chilo supressalis)

Chilo supressalis disebut pengerek batang apdi bergaris karena ulatnya memiliki dua garis memanjang. Hama ini juga tidak terlalu mengakibatkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi.

 

  1. Pengerek Batang Padi Berkepala Hitam (Chilo polychrysus)

Chilo polychrysus disebut pengerek batang padi berkepala hitam karena ngengatnya berkepala hitam. Dan hama ini juga tidak menimbulkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi.

 

  1. Pengerek Batang Padi Mata Bertungkai (Diopsis macropthalma)

Diopsis macropthalma disebut penegerek batang padi mata bertangkai karena bagian kepalanya mempunyai tonjolan berwarna merah yang bagian ujungnya membulat seperti mata yang bertangkai. Hama ini ditemukan dibenua Afrika.

 

BEBERAPA MUSUH ALAMI DARI HAMA PENGEREK BATANG PADI :

pada saat pengerek batang padi masih berupa telur, pengerek batang padi ini mempunyai musuh alami sebagai berikut :

 

  1. Parasit Telur Telenomus

Parasit telur Telenomus (Telenomus rowani;Hymenoptera;Scelionidae) merupakan parsit kecil berwarna hitam yang memparasiti telur-telur pengerek batang padi.tabuhan telenomus mencari ngegat betina pengerek batang yang telah siap bertelur dan kemudian hinggap di ujung perut ngegat dewasa, dekat dengan ovipositor (alat untuk meletakkan telur). Ketika ngegat mulai bertelur, tabuhan ini segera menitipkan telurnya dengan menyuntikkan kedalam telur-telur yang abru keluar dari ngegat-ngengat dewasa. Setelah 10-14 hari, yang keluar dari kelompok telur tersebut bukan ulat pengerek batang padi namun yang keluar tersebut adalah tabuhan telenomus baru yang siap mengamankan sawah dari serangan pengerek batang padi. Tingkat parasitasi tabuhan telenomus dilapangan adalah antara 36%-90%.

 

  1. Parasit Trichogramma

Parasit Trichogramma (Trichogramma japonicum; Hymenoptera; Trichogrammitidae) ini berwarna hitam, lebih kecil dari semut. Hama ini sering muncul dari kelompok telur pengerek batang. Parasit ini meletakkan telur dengan menyuntikkan ovipositornya diantara bulu-bulu halus yang menutup telur. Telur parasit diletakkan satu per satu pada tiap telur pengerek batang. Tingkat parsitasi dilapangan berkisar antara 40%.

 

  1. Jangkrik Ekor Pedang

Jangkrik ekor pedang (Metioche vittaticollis atau Anaxpha longipennis; Orthroptera: Gryllidae) merupakan jangkrik pemangsa. Jangkrik ini disebut jangkrik ekor pedang karena memiliki ekor seperti pedang. Cirri lain dari jangkrik ekor pedang adalah sungutnya yang panjang sehingga dibeberapa tempat jangkrik ini juga disebut jangkrik sungut panjang.bukan hanya jangkrik dewasa, jangkrik ekor pedang muda pun merupakan pemangsa kelompok telur pengerek batang padi yang rakus.

 

Dan masih banyak musuh-musuh lami yang lain, yang memangsa dari hama pengerek batang padi sesuai dengan fase-fase dari hama pengerek batang tersebut. Musuh-musuh alami ini dapat digunakan dalam pertanian organic yang memamnfaatkan musuk alami sebagai pengendali hama dan bukan mengunakan pestisida yang dapat membunuh segala macam mahluk hidup yang ada diekosistem tersebut.

Pustaka :Handoko Widagdo.1994. Pengendalian Hama Pengerek Batang Padi. Andi Offset, Yogyakarta.

Menghadapi penyakit virus, cendawan, bakteri dan nematoda

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

padi hawar daun

 

A. BAKTERI

Bakteri pada umumnya sukar dan hamper tidak dapat dibasmi dengan obat-obatan. Usaha untuk mengendalikan atau untuk mengurangi populasi bakteri dalam tanah dapat dilaksanakan dengan jalan “fumigasi” atau mensterilkan tanah dengan uap air, bisanya usaha tersebut terlalu mahal.

Usaha yang paling mijarab untuk mengendalikan bakteri adalah dengan :

  1. Menanam jenis tanaman yang immuun atau resisten.

  2. Mengadakan rotasi tanaman. Jangan menanam satu jenis tanaman terus-menerus di suatu tempat, bila jenis tersebut merupakan tanaman yang mudah diserang oleh bakteri tertentu.

  3. Usahakan kultur teknis yang khas untuk menghindarkan adanya penularan, misalnya dengan mengurangi ulangan marimbas dalam musim hujan.

Tindakan ini akan mengurangi percikan tanah yang dapat mempercepat penularan penyakit bakteri. Praktek ini dilaksanakan dalam pemeliharaan tanaman kol., untuk menghindarkan seranggan bacterium Campestris.

 

B. CENDAWAN

Menghadapi penyakit cendawan relative lebih mudah daripada bakteri, landasannya adalah :

  1. Adakan pengawasan yang ketat. Sekali ada kelompok cendawan menyusup dalam tanaman kita, berarti hasilnya sedikit banyak akan menurun.

  2. Adakan usaha preventif, dalam arti kata pencegahan, dengan menutup seluruh bagian tanaman dengan fungisida, sebelum cendawan menyusup.

  3. Bila ternyata kita sudah kebobolan usahakan pencegahan penularan yang lebih luas (menghentikan infeksi).

  4. Adakan penyemprotan fungisida beberapa kali. Iklim kan menentukan beberapa kalai akan dilakukan penyemprotan.

Usaha yang mujarap untuk menegndalikan penyakit cendawan adalah :

  1. Menanam jenis tanman yang resisten.

  2. Usahakan menanam menanam jenis-jenis yang peka sebanyak mungkin dalam musim kemarau, jika pengairan masih memungkinkan.

 

C. VIRUS

Usaha untuk mencegah adanya penularan hanya dapat dilaksanakan tidak secara langsung terhadap virusnya sendiri.

Untuk menghindarkan adanya virus didalam tanaman kita sedini mungkin, tindakan-tindakan dibawah ini perlu dilaksanakan ;

  1. Usahakan menanam bibit yang telah dinyatakan bebas virus.

  2. Usahakan menanam jenis tanman yang resisten

  3. Mengendaliakn serangga vector dari virus tersebut.

  4. Usahakan kebersihan yang sebaik-baiknya dalam menanam bibit yang mudah dihinggapi virus.

  1. PENYAKIT atau HAMA NEMATODA

Nematode walaupun ukurannya lebih besar dari pada ketiga penyakit yang telah disebutkan sebelumnya, tetap saja susah untuk diatasi.

Salah satu kultur teknik yang kini sudah banyak dilupakan adalah penanaman rabuk hijau. Rabuk hijau Clotalaria usaramuensis, merupakan leguminosa yang sagat tidak disukai oleh sejenis nematode Heterodera marioni. Denagn menanam clotalaria tersebut maka nematode tadi akan kelaparan dengan sendirinya populasinya akan sangat tertekan.

Penanaman tagets, atau bunga kenikir dapat pula menghalau beberapa jenis nematode.

 

Pustaka : Rismunandar.1981. Penyakit Tanaman Pangan dan Pengendaliannya. Sinar Baru, Bandung.

Hama dan penyakit tanaman kelapa sawit

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembanguan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

 

 

Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman yang kuat karena serangan hama dan penyakit jarang membahayakan.

 kelapa sawit

 

HAMA PENTING PADA KELAPA SAWIT

  1. Hama Nematoda

Penyebab : Nematoda Rhadinaphelenchus cocophilus

Gejala yang terserang hama ini :

  • Daun baru yang akan membuka menjadi tergulung dan tumbuh tegak.

  • Daun berubah menjadi kuning kemudian mongering.

  • Tandan bunga membusuk dan tidak membuka sehingga tidak menghasilkan buah.

Pengendaliannya : meracuni pohon yang terserang dengan natrium arsenit dan setelah mati / kering segera dibongkar untuk menghilangkan sumber infeksi.

  1. Hama Tungau

Penyebab : Tungau merah ( Oligonychus )

    • Tungau ini berukuran 0,5 mm, hidup disepanjang tulang anak daun sambil mengisap cairan daun sehingga warna daun berubah menjadi mengkilat berwarna bronz.

    • Hama ini berkembang pesat dan membahayakan dalam keadaan cuaca kering pada musim kemarau.

    • Gangguan tungau pada pesemaian dapat mengakibatkan rusaknya bibit.

Pengendalian : penyemprotan dengan akarisida Tetradifon (Tedion) 0,1 – 0,2 %. Racun ini dapat digunakan dengan baik karena tidak membunuh musuh alaminya.

  1. Hama serangga.

  • Hama ulat setora, Setora nitens.

Kupu-kupu Setora meletakkan telurnya di bawah permukaan daun dekat pada ujungnya. Ulat Setora memakan daun dari bawah, sehingga kadang-kadang yang tersisa hanya lidinya saja.

Pengendalian : Ulat ini dapat dikendalikan dengan penyemprotan racun kontak, misalnya Hostation 25 ULV, Sevin 85 ES, Dursban 20 EC dengan konsentrasi 0,2 – 0,3 %.

  • Kumbang oryctes , Oryctes rhinoceros

Gejala serangan : Kumbang dewasa masuk ke dalam daerah titik tumbuh dan memakan bagian yang lunak.bila serangan mengenai titik tumbuh, tanaman akan mati, tetapi bila makan bakal daun hanya menyebabkan daun dewasa rusak seperti terpotong gunting.

Pengendalian : untuk mencegah berkembangnya hama ini, kebersihan di sekitar tanaman harus dijaga baik. Sampah-sampah atau pohon yang mati dibakar agar larva hama ini mati.

Pemberantasan secara biologis dengan menggunakan cendawan Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

  • The oil palm bunch moth

Penyebab : Ngengat Tirathaba mundella

Gejala serangan : Telur-telur Tirathaba diletakkan pada tandan buah terutama pada

buah-buah yang telah masak atau busuk. Setelah menetas, ulat atau larva melubangi buah-buah muda atau memakan permukaan buah yang matang.

Pengendalian : Ulat Tirathaba dapat dikendalikan dengan Dipterex atau Thiodan.

Caranya sbb. : 0,55 kg Dipterex atau Thiodan dilarutkan dalam air sebanyak 370 liter (dosis per hektar) dan diaduk sampai merata, selanjutnya disemprotkan pada kelapa sawit yang terserang ulat Tirathaba tersebut.

  1. Mamalia

Hama yang termasuk mamalia (binatang menyusui) adalah babi hutan dan kera. Hama ini sangat merusak tanaman kelapa sawit. Di beberapa daerah tertentu di Sumatera, gajah sering menyebabkan kerusakan yang serius pada tanaman kelapa sawit muda. Selain itu juga tikus (rodentia) merupakan hama yang merusak (memakan) buah kelapa sawit yang sudah tua.

 

PENYAKIT PENTING PADA KELAPA SAWIT

  1. Penyakit akar Blast disease

Penyebab : cendawan Rhyzoctonia lamellifera dan Phytium sp.

Gejala serangan :

  • Bila menyerang pesemaian dapat menyebabkan kematian bibit secara mendadak.

  • Bila menyerang tanaman dewasa akan menyebabkan daun menjadi layu, kemudian tanaman mati.

  • Kalau perakaran tanaman dilihat, tampak adanya pembusukan pada akar.

Pengendalian :

  • Pembuatan pesemaian yang baik agar pertumbuhan bibit sehat dan kuat.

  • Pemberian air irigasi pada musim kemarau dapat mencegah terjadinya gangguan penyakit ini.

 

  1. Penyakit garis kuning pada daun

Penyebab : cendawan Fusarium oxysporum

Gejala serangan :

  • Infeksi penyakit sudah terjadi pada saat daun belum membuka.

  • Setelah daun membuka akan tampak adanya bulatan-bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat tempat konidiofora.

  • Bagian-bagian tersebut kemudian mengering.

Pengendalian : Menanam bibit yang bebas dari infeksi penyakit ini.

  1. Penyakit batang dry basal rot.

Penyebab : cendawan Ceratocyctis paradoxa.

Gejala serangan :

  • Tandan buah yang sedang berbunga mengalami pembusukan.

  • Pelepahnya mudah patah, tetapi daun tetap berwarna hijau untuk beberapa saat, meskipun pada akhirnya akan membusuk dan mongering.

  • Semua gejala tersebut sesungguhnya disebabkan karena terjadinya pembusukan (busuk kering) pada pangkal batang.

Pengendalian : Menanam bibit yang bebas dari infeksi penyakit ini.

  1. Penyakit busuk tandan (bunch rot)

Penyebab : cendawan Marasmius palmivorus sharples.

Gejala serangan :

  • Penyakit ini menyerang tanaman berumur 3 – 10 tahun.

  • Menyerang buah yang matang dan dapat menembus daging buah, sehingga menurunkan kualitas minyak sawit.

Pengendalian :

  • Tindakan pencegahan dilakukan dengan melakukan penyerbukan buatan dan sanitasi kebun terutama pada musim hujan.

  • Membuang semua bunga dan buah yang membusuk dan membakar tandan buah yang terserang.

  • Dapat disemprot dengan menggunakan Difolatan atau Actidone dengan konsentrasi 0,2 % atau sebanyak 0,7 liter/ha dengan interval waktu 2 minggu sekali.

 

Pustaka : Anonim…. Hama Penting Pada Tanaman Kelapa sawit………..

 

Daftar-daftar istilah dalam ilmu serangga

Oleh : Didi Darmadi

Alumni Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) N Kepahiang-Bengkulu. E-mail: ma_di@plasa.com

Abdomen : perut; daerah tubuh serangga yang paling belakang (ketiga).

Botol pembunuh : botol yang digunakan sebagai tempet untuk membunuh serangga yang didapatkan darril lapangan untuk keperluan penelitian atau koleksi. Didalam botol pembunuhan tersebut terdapat bahan-bahan atau zat pembunuh, misalnya KCN.

Cairan pupa : meconium; cairan yang biasa meneyelimuti calon serangga dewasa yang abru keluar dari pupa.

Diapuse : masa istirahat pada perkembangan serangga.

Elytra : sayap depan bangsa kumbang (Coleopteran) dan cocopet (Dermaptera) yang bersifat keras seperti kulit, namun rapuh.

Embun madu : cairan gula dari bangsa kutu jenis tertentu, misalnya kutu aphid.

Femur : sebutan untuk ruas ketiga kaki serangga.

Halter : modifikasi sayap belakang bangsa lalat dan yamuk berupa pentolan kecil, dan berfungsi sebagai alat keseimbangan.

Hemelitra : sayap depan bangsa kepik.

Insang : alat bernapas jenis binatang akuatik tertentu, merupakan pelebaran dinding tubuh atau usus belakang yang berfungsi sebagai tempat pertukaran udara.

Instar : masa diantara pergantian kulit pada serangga.

Jaring serangga : alat berupa jarring kecil yang digunakan untuk menagkap serangga, terutama serangga terbang.

Jarum koleksi : jarum pentol dengan macam-macam diameter yang digunakan untuk menusuk serangga, untuk keperluan koleksi.

Kampuh : celah dibagian luar tubuh berupa garis pada dinding tubuh.

Kanibalisme : pristiwa makan-memakan anatar individu pada satu jenis yang sama.

Karnivora : pemakan daging.

Kelenjar bau : kelenjar penghasil cairan berbau khas, misalnya pada bangsa kepik dan jenis kumbang tertentu.

Keranjang serbuksari : corbicula; daerah lunak pada permukaan luar ruas keempat kaki belakang lebah yang dibatasi oleh rambut-rambut panjang melengkung.

Kopulasi : sanggama; bertemunya alat kelamin jantan dan betina.

Labium : salah satu bagian alat mulut; bibir bawah.

Larva : tahap hidup diantara tahap hidup tahap telur dan pupa, dan biasanya digunakan untuk menyebut serangga pra-dewasa dari serangga dengan tipe metamorfosis sempurna.

Lembaran sepirakel : lembaran yang terdapat disekitar sepirakel (lubang pernapasan).

Maksila : sepasang bagian alat mulut yang terdapat dibagian mandibula.

Mandibula : rahang; sepasang bagian alat mulut yang terletak dibagian depan.

Mata majemuk : mata yang tersusun atas banyak mata tunggal.

Mata sederhana : ocelli; terdapat pada serangga dan binatang yang berbuku-buku yang lain, terletak diantara pangkal antenaatau kedua buah mata majemuk.

Mata tunggal : ommatidia; unit tunggal dari mata majemuk.

Metamorfosis : perubahan bentuk selama perkembangan.

Nadi : vena; garis menebal pada sayap (serangga).

Naiad : nimfa yang hidup didalam air dan bernafas dengan insang.

Nasuti : salah satu kastra rayap yang berbentuk kepalanya sempit dan meruncing pada bagian ujungnya, sehingga membentuk moncong.

Nimfa : sebutan serangga pra-dewasa pada serangga yang meta morfosisnya sederhana.

Nocturnal : aktif pada malam hari.

Omnivore : pemakan segala.

Ovipositor : alat peletak telur pada beberapa serangga betina.

Parasitoid : serangga parasit, dapat hidup diluar atau didalam inangnya.

Partenogenesis : berkembangnya telur yang tidak dibuahi.

Pedisel : tonjolan diantara toraks dan abdomen semut.

Penampung seperma : (pada capon dan sibar-sibar jantan) tempat untuk menyimpan sementara sperma yang dikeluarkan dari alat kelamin untuk kemudian disalurkan ke dalam tubuh serangga betina pada saat kopulasi.

Penis : alat kelamin jantan yang berada diluar tubuh.

Polifagus : kisaran inangnya lebar; pemakan banyak jenis makanan.

Polimorfisme : berbentuk tubuh banayak.

Populasi : sekumpulan mahluk hidup sama jenis yang hidup pada satu tempat tertentu.

Peredasius : bersifat pemangsa.

Predator : pemangsa.

Prepupa : tahap diam diantara masa larva dan pupa; instar ketiga dari jenis thrips.

Puparium : bungkus yang berbentuk oleh pengerasan kulit larva instar terakhir sehingga pupa akan terbentuk; pada bangsa lalat.

Pupasi : pergantian kulit dari larva instar terakhir menuju ketahap pupa.

Soliter : penyendiri (pada beberapa jenis lebah, tawon, semut dan kepik).

Stylet : alat penusuk pada serangga yang mempunyai alat mulut bertipe pencucuk-penghisap; bentuknya seperti jarum.

Subimago : instar bersayap yang segera berkembang menjadi serangga dewasa matang kawin; pada lalat sehari.

Tabung malfigi : organ pengeluaran urin serangga, yang berupa pipa panjang yang bermuara pada usus belakang.

Tegmina : sayap depan berupa kulit pada bangsa belalang.

Toraks : dada; daerah tengah (kedua) dari tubuh serangga.

Vena palsu : garis tebal serupa vena diantara vena sejati radius dan median pada lalat apung dewasa.

Pustaka : Nugroho Susetya Putra.1994. Serangga Di Sekitar Kita. Kanisius, Yogyakarta.